"With peaks of joy and valleys of heartache, life is a roller coaster ride, the rise and fall of which defines our journey. It is both scary and exciting at the same time." - Sebastian Cole

Thursday, September 4, 2014

Kuis Best Rival - Saling Memakan


For you, who was ate me alive.


Kamu,
Seakan selalu kamu yang benar dan aku yang salah. 

Aku,
Bodoh, berdiri diam berusaha memberi warna namun memperkeruh suasana.
Benci sekali melihat hal-hal ini terus terjadi.

Kamu, mencampur diksimu dengan gejolak amarah. Seakan, “Okay, kita akan berakhir dalam hitungan menit!” tapi terus mengejar, memberi harapan.

Jika aku jujur, maukah kamu mendengar itu sebagai subyektifitasku yang nantinya kamu olah dengan hasilmu, sehingga kita satu namun tanpa ada bisu.

Mereka,
Ijinkan mereka masuk. Agar lubang tak lagi renggang, agar bocor tertutupi secuil kail pengakrab.

Kita,
Susuri lorong gelap, mendaki hamparan terjal, terjun bergenggam tangan.

Kembali padaku, klise-kan hari-hari dulu.

Sehingga kamu, datang dengan wajah itu lagi, tekukan yang kubenci.
Kemudian mereka tersihir olehmu, diam takut saat berhadap denganmu.

Sukakah kamu dengan itu? Wajah yang itu? Tekukan itu? Rasa takut yang memburu? Cemburu yang terus-terus membuat tugu?
"Tidak." Jawabmu. Lalu kenapa hal itu terus saja terjadi? Terus kau biarkan datang merenggut batin hatimu?
"Karena kamu." Jawabmu lagi. Aku merusak mainanmu, dan membiarkan kamu menyihirnya — yang takut, namun menyayangimu.

Kita,
Memang tak pernah benar menjadi teman. Memupuk iri dan menebar duri. Bukan variable yang saling dukung, asik tikung sambil bersenandung. Kita bersaing demi tawaan, kita membuat suatu pertandingan dengan entahlah siapa berhak menjadi juara.

Kamu dan aku menyadarinya. Saling tendang, saling makan.

Kita, rival, kawan.


PS: Remember this, I'm who I am, and you are who you are.

Friday, August 22, 2014

Mimpi dan Impian

Mimpi dan impian.
Dua hal yang semenjak awal bulan Juli kemarin membuat pikiran saya terbagi-bagi.

Saya seorang siswi, 17 tahun. Sekarang ini menginjakkan kakinya di kelas 3 SMA. Ya, itu berarti tahun depan segala kesibukan ujian nasional, ujian-ujian-ujian, serta meneruskan sekolah ke perguruan tinggi sudah harus saya jalani. Lantas apa yang membuat saya kepikiran? Karena banyak orang berkata, perguruan tinggi itu kental hubungannya dengan masa depan dan mimpi-mimpi kita. Jadi, sebaiknya pilih dan masuklah ke perguruan beserta jurusan yang memang 'kita-banget'. Nah, saya galau karena itu.

Kaitannya dengan mimpi dan impian, saya rasa agak telat jika saya baru meyakinkan diri saya sekarang ini. Tapi saya selalu percaya, telat lebih baik daripada gak sama sekali. Dan postingan "Jangan Pernah Berhenti Bermimpi!" dari Naelil the Climber ini membantu saya banget untuk semangat menjangkau mimpi dan impian saya setahun ke depan -- dan bertahun-tahun selanjutnya.
Well, apa yang kita dapetin di masa sekarang, itu cerminan usaha kita di masa lalu. Bener, nggak? Dan yang kita lakuin di masa sekarang, itu bakal memantul ke masa depan kita. Kesuksesan yang kita dapetin insya Allah sebanding sama perjuangan kita kok, bahkan mungkin lebih baik. Percaya sama Allah!

Mungkin, dalam perjalanan kita untuk menggapai mimpi tersebut, bakal banyak kerikil tajam yang beterbangan. Kita bakal jatuh bangun. Tapi justru itulah yang bikin kita makin tangguh. Jangan sekali kalah, udah nyerah. Semangat dong! Maju terus sampai titik darah penghabisan!
Yap, saya setuju banget dengan kutipan Kak Naelil itu. Penuh tekad dan semangat. Bukan cuma itu aja, Kak Naelil juga menjabarkan hal-hal penting dalam menggapai mimpi: Niat, tetapkan mimpi dengan jelas, tentukan langkah, dan berdoa. Iya, sih, itu langkah-langkah biasa, tapi Kak Naelil bisa menjabarkan tiap point-nya dengan apik dan sindiran halus, tapi membakar semangat. Intinya saya merasa sangat terbantu (ini alasan kenapa saya pilih postingan yang ini, hehe). Terima kasih, Kak.

Dan, masih ada lagi hal yang aku suka dari postingan Kak Naelil yang ini, quotes!

You are never too old to set another goal or to dream a new dream.” - C.S. Lewis
“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.” - Eleanor Roosevelt

“It’s gonna get harder before it gets easier. But it will get better, you just gotta make it through the hard stuff first.” - Anonymous
PS: Aku kagum banget sama Kak Naelil, dari postingannya terlihat sangat bersemangat dan juga karena karya-karya sering banget terbit di media cetak. Kalau boleh saran sedikit, sebenarnya bukan tentang postingannya, sih, tapi tampilan blog-nya, Mr. Bean di kanan bawah agak mengganggu menurut saya, tapi pilihan warna dan background belakang bikin suka banget! Terus gaya nulis Kakak juga enak dibaca.

PS ke-2: Sejujurnya, ada lagi postingan yang sangat membantu saya buat menjalani kehidupan anak SMA tingkat akhir dan segala urusan ke depannya, kayak yang Celoteh Anak SNMPTN, Pengangguran yang Digantungin, dan Passion atau Prospek yang Diutamaiin?, tapi berhubung cuma boleh pilih salah satu, jadi saya pilih ini. Sukses terus, Kak! Selamat MABA UGM!


Thursday, July 31, 2014

Hidden Agenda: Bahaya di SMA Muda Bakti




Judul: Hidden Agenda (Bahaya di SMA Muda Bakti)
Penulis: Jacob Julian
ISBN: 602-220-125-X
Penerbit: Bukune
Editor: Hotnida Sary & Ry Azzura
Proofreader: M Ridho
Layout: Irene Yunita & Astri Wahyuni
Desain Sampul: Angelika
Tebal: iv + 252 halaman
Cetakan pertama, Mei 2014.
Cara dapat: Hadiah #berbagibacaan dari @RyAzzura (terima kasih banyak!)
Harga normal: Rp. 47.000

Blurb:

SMA Muda Bakti gempar! Penyimpangan yang ditemukan pada laporan keuangan OSIS menunjukkan bahwa ada dana yang hilang dalam jumlah besar. Akibatnya, banyak kegiatan ekstrakurikuler tidak mendapat pendanaan. OSIS pun dibekukan. 
Jana—yang band sekolahnya gagal rekaman karena skandal itu—tidak bisa tinggal diam. Dia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia menghadapi masalah lain, Penta—sahabat sekaligus teman satu band—berulah. Dia beberapa kali meminjam uang dalam jumlah besar, sering membolos, dan perlahan menjauhinya. 
Dapatkah Jana mengungkap kebenaran dan mendapatkan sahabatnya kembali? Sementara, ada satu hal yang tidak dia sadari; sebuah bahaya besar sedang mengincarnya....

Wah! Saya berhasil dibuat menebak-nebak dari awal cerita sampai akhir. Saya mencoba menebak saat di halaman 76, dan ternyata tebakan saya salah. Lalu kembali memberanikan diri menebak lagi di halaman 198, namun tetap salah. Cerita yang disuguhkan berupa cerita misteri dektektif-detektifan (apa ya namanya?) di kalangan anak SMA. Melibatkan banyak tokoh, dan saya salut kepada menulis, tokoh yang dimunculkan tidak ada yang sia-sia atau cuma numpang lewat saja, tapi kelihatannya sudah benar-benar diperhitungkan dimana mereka kemudian akan muncul lagi dan menghasilkan cerita yang menyatu. Berikut tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita:
  1. Jana, pemegang bass di band sekolah -- si tokoh utama yang berani, tegas, setia kawan, penuh keingintahuan, kadang emosian.
  2. Karin, si sekretaris bendahara OSIS -- lurus, adil, penuh keingintahuan.
  3. Mardian, ketua OSIS -- suka bekerja, kadang emosian.
  4. Penta, vokalis band sekolah -- digambarkan easy going, suka bolos, mukanya pucat melulu, suka telat.
  5. Dori & Beni, teman band Jana & Penta -- pelengkap, ya setia kawan juga, apalagi ya? Pokoknya mereka asik kayak kebanyakan teman pemeran utama di TV-TV.
  6. Tiara, bendahara OSIS -- sensitif!
  7. Gilang & Alex, alumni -- mereka dulu juga nge-band, jadi bantuin Penta dkk, deketnya sama Penta. Alex tipe-tipe cihuy, sementara Gilang digambarkan pendiam.
  8. Dan ada lagi yang lainnya.
"Apapun yang kamu kerjakan, harus kamu kerjakan dengan baik, benar, dan jujur. Harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Kayak kamu buat makanan ini. Kamu kerjakan dengan baik, sesuai petunjuk yang Ibu berikan. Harus jujur, tidak aneh-aneh dengan menambahkan bumbu lainnya, ya pastinya kerjaan kamu akan dinilai baik oleh yang makan." (halaman 92) 
Sebagai anak SMA, disuguhkan cerita berlatar sekolah dan segala masalah organisasi -- dan ekskul membuat saya manggut-manggut mengerti dan ikut merasakan kebingungan yang para tokoh rasakan dalam cerita. Tak jarang saya mensama-samakan atau membeda-bedakan beberapa hal yang terjadi di sekolah SMA Muda Bakti ini dengan sekolah saya sendiri.
"Jangan salahkan diri kamu sendiri. Semua ini hanya efek domino yang terlalu banyak imbasnya ke kamu. Kami nggak akan biarkan kamu terjatuh." (halaman 242)
"Kau tidak akan pernah tahu bahwa seseorang pantas kau jadikan teman, sebelum dia melakukan hal yang membuatmu nyaman." (halaman 239)
Yap! Apalagi yang mau saya bilang, saya suka alur ceritanya. Akhir yang tidak tertebak, sifat tokoh yang sesuai umur, dan alur yang pas, tidak lambat atau terlalu cepat, bagus! Hanya ada yang menggangu (dan ini bersifat sangat subjektif, hehe.) seperti, kok waktu istirahat lama sekali ya? Saya jadi iri, di sekolah saya istirahat hanya 15 - 30 menit. Lalu, pengambilan latar di kota Madiun terasa kurang cocok, mungkin lebih cocok jika latarnya kota besar. Tapi toh saya juga belum tahu Madiun aslinya seperti apa. Dan, dari yang saya tangkap, diceritakan bahwa Jana sama Karin saling suka, namun pas lagi berinteraksi berdua dan sesudahnya seperti ada yang kurang antara Jana dan Karin, mungkin bila ditambah bumbu-bumbu cinta antara mereka berdua sedikit lagi, saya akan semakin puas, hehe. Oh, iya, cover-nya menggambarkan isi cerita sebenarnya, awalnya saya tidak menyadari, namun setelah membacanya, kemudian melihat cover-nya kembali, saya kemudian ber-oh-oh ria.

Saat baca novel ini, kebetulan saja di dekat saya ada handphone, jadi saya sempatkan mencatat kekeliruan ketik atau typo yang sepanjang mata membaca, saya temui di novel ini, correct me if I wrong, tapi ini yang saya temukan:
  1. Kata "kami" (halaman 45) yang ditulis dengan K huruf kapital setelah koma, seharusnya tidak perlu dikapital.
  2. "Orang nya" (halaman 59) yang dipisahkan, seharusnya digabung jadi "orangnya".
  3. Kata "tip" (halaman 59), seharusnya "tips". Karena dalam konteks cerita, "tip" yang dimaksud adalah semacam wejangan, di KBBI "tip" berarti persen kepada pelayan atau semacamnya.
  4. "Menurutnya" (halaman 82) saat Alex sedang berbicara pada Jana, menurut saya lebih cocok jika diganti "menurutmu", karena ditunjukan hanya untuk Jana, bukan jamak.
  5. Kata "mereka" (halaman 119), dengan M yang ditulis kapital padahal tidak setelah titik atau yang mengharuskannya, seharusnya tidak perlu dikapital.
  6. Di halaman 139, terdapat dialog yang awalnya antara Jana dan Mardian, namun ada line setelah dialog yang menerangkan kalimat itu dikeluarkan oleh Penta, padahal Penta tidak ada di kejadian. Intinya, mungkin seharusnya itu tercetak Jana, bukan Penta.
  7. "Mardia" (halaman 166), seharusnya "Mardian".
  8. Kalimat "Mardian sedang kertas hasil nge-print" (halaman 168), mungkin seharusnya "Mardian sedang membereskan kertas hasil nge-print", ada kata kerjanya.
  9. Ada kalimat dalam dialog "dia dua hari ini dia" (halaman 168), lebih enak dibaca dengan menghilangkan satu "dia".
  10. Kata "kemuadian" (halaman 170), seharusnya "kemudian".
  11. "Karin" (halaman 205) yang dicetak dengan k huruf tidak kapital, seharusnya K kapital, karena merupakan nama orang.
  12. "Penontonj" (halaman 241), seharusnya "penonton".
  13. Kalimat "Karin berubah jadi merah" (halaman 254), seharusnya "muka Karin berubah jadi merah".
Selebihnya itu, sekali lagi saya katakan, saya sangat menyukai cerita dari novel ini, walau tidak sampai membuat book-hangover. Recommended untuk yang suka bacaan ringan tapi butuh berpikir.
3,5 of 5 stars.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...