"With peaks of joy and valleys of heartache, life is a roller coaster ride, the rise and fall of which defines our journey. It is both scary and exciting at the same time." - Sebastian Cole
Showing posts with label gramedia pustaka utama. Show all posts
Showing posts with label gramedia pustaka utama. Show all posts

Monday, October 17, 2016

Mr. Commitment by Mike Gayle Review: Jungkir Balik Dunia Duffy



Mr. Commitment 
Penulis: Mike Gayle 
Alih bahasa: Nurkinanti Laraskusuma 
Gramedia Pustaka Utama, April 2011.   

Blurb:

Ben Duffy mencintai Mel, pacar 4 tahunnya, sepenuh hati. Namun, saat Mel mulai membahas tentang pernikahan, Duffy terus menghindar. Dia mencintai Mel tapi tidak mau melakukan komitmen sebesar pernikahan. Kata-kata “Hingga maut memisahkan” terdengar begitu mengerikan baginya.
Hal itu sempat membuat hubungan mereka merenggang, hingga Duffy akhirnya mengiyakan ajakan Mel untuk menikah. Mereka bertunangan.
Semuanya tidak berjalan lancar. Pertengkaran terakhir mereka menyadarkan Mel kalau Duffy tidak akan bisa ‘dipaksa’ menikah, dengan cara apa pun. Duffy mencintainya, namun tidak mampu berkomitmen lebih. Dia mencintai Duffy, tetapi tidak mau mempertahankan hubungan yang tidak akan ke mana-mana. Dengan keputusan sepihak dari Mel, hubungan mereka berakhir.
Duffy kalut. Terutama saat dia mendapati Mel sudah bersama laki-laki lain, sebulan setelah perpisahan mereka. Dia mencoba melanjutkan hidup, berkencan dengan ‘Cewek TV Terpanas’, dan belajar merelakan Mel.
---
JUNGKIR BALIK DUNIA DUFFY 

“Orang selalu bercerita bagaimana fantastisnya sebuah hubungan pada awalnya, dan tentu saja semua membenci hubungan itu ketika berakhir, tapi bagaimana dengan tengahnya? Bagian tengah saat kau mengetahui semua yang bisa kau ketahui. Saat kau bisa memandang orang yang kaucintai dan tahu apa yang mereka pikirkan; melihat sesuatu di televisi dan tahu bagaimana mereka akan bereaksi; saat kau tahu persis apa yang akan mereka kenakan untuk datang mengunjungimu.” (halaman 244) 

Benjamin Dominic Duffy anti terhadap komitmen. Pada umurnya yang ke-28 tahun, dia akhirnya menyadari bahwa hidup penuh pilihan. Mel, kekasihnya yang sudah 4 tahun berhubungan dengannya, secara tiba-tiba ingin bertunangan. Duffy tidak yakin apakah dia bisa mewujudkan keinginan Mel. Dia sangat mencintai Mel, tapi satu-satunya yang tidak ia inginkan di dunia ini ialah, komitmen. Walau akhirnya Duffy meng-iya-kan ajakan Mel untuk menikah dan akhirnya mereka bertunangan. Duffy tidak lantas yakin dan hal itu justru menimbulkan masalah dan perpecahan dalam hubungannya dengan Mel. 

Hal demi hal terjadi. Hidupnya dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang membawanya mengerti bahwa pilihannya kini hanya satu: dengan Mel atau tanpa Mel. 

INI NOVEL DEWASA YA 

Kalau penulisnya orang Indonesia, novel ini pasti masuk lini metropop. Karena masalah yang dihadapi adalah masalah orang modern banget. Aku menikmati tiap lembar yang kubaca meski agak tersendat-sendat, karena sebenarnya untuk novel 370-an halaman, masalah yang ditawarkan novel ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi penulis dan penerjemah di sini bisa menghadirkannya dengan rangkaian kata yang enak, jadi diikutinya juga gak bosen. 

Masalah utamanya adalah apa yang terjadi di hidup seorang Duffy ketika usianya sudah tidak tergolong muda lagi, 28 tahun. Bagaimana dia dihadapkan terhadap suatu kejadian yang mengharuskannya berkomitmen. Aku suka karena di novel ini tokoh hero-nya tidak ditampilkan sebagai tokoh yang ‘wow ganteng hebat aku suka banget’ tapi tokoh biasa saja yang justru cenderung agak pecundang (?) Duffy yang bilang sendiri sih haha, katanya mengutip salah satu perkataan orang, kalau usia kamu sudah 26 tahun dan pulang pergi masih dengan bus, berarti sebenarnya kamu gagal hidup nyaman gitu. 

Aku juga suka tiap tokoh yang dihadirkan. Seakan bukan tokoh sambil lalu saja dan semua punya karakter masing-masing. Menjadikan novel ini itu rasanya ‘adaptable’ banget kalau buat jadi film. Tipikal alur pelana kuda. Nah, tapi kekurangannya, seakan aku gak bisa bayangin perawakan-perawakan dari tiap tokohnya. Di kepalaku hanya ada imajinasi bebas aja deh jadinya. C

over (versi bahasa Indonesia) nya menggoda. Simple tapi eye-catching. Awal pilih buku ini pun, ya karena cover-nya. Alasan yang kedua, karena di blurb ada tulisan ‘IKEA’ (iya, sesimpel itu haha). Cantik banget cover-nya dengan menunjukan 2 gelas, satu biru, satu merah. Yang merah pasti punya Mel, ada tulisan ‘I love you’, yang biru pasti punya si Duffy nih, ada tulisan dengan post-it entah itu ‘I leaving you’ atau ‘I learning you’ (?) dan sebuah cincin. Cantik. Bagus. Ditambah dengan warna biru muda, aaaaa bagus. 

Overall, aku menikmati sih pas baca novel ini. Tapi gak sampai yang jatuh cinta banget. Worth to read! 3,5 of 5 stars.

Sunday, October 16, 2016

Yamaniwa - Netty Virgiantini


Yamaniwa
Penulis: Netty Virgiantini 
Gramedia Pustaka Utama, November 2013. 

Blurb:


Perselingkuhan tidak perlu alasan dan tidak termaafkan!

Niwa tidak menyangka pengkhianatannya pada Yama, kekasih di masa lalu, harus ditebus dengan sangat mahal: hubungan cinta yang selalu kandas di tengah jalan.

Dalam sepuluh tahun, sudah lima laki-laki meninggalkannya. Bahkan menurut ramalan sahabatnya, ia bakal patah hati 995 kali lagi!

Namun yang terberat, Niwa menyadari sesungguhnya ia masih sangat mencintai Yama, tepat ketika pria itu muncul dan meminta Niwa membuatkan kebaya pengantin untuk calon istrinya. Apakah ini karma yang masih harus dibayar Niwa atau ini sekadar pembalasan dari Yama?

Jika memang ada karma cinta, Niwa ingin membayar semua dosa masa lalunya pada Yama, agar ia bisa segera move on dari pria itu. Tapi jika ini pembalasan... 


Ketika Cinta Bertemu Karma 

Kisah ini dimulai ketika semua tokohnya masih sama-sama duduk di bangku SMK. Niwa, yang waktu itu mengambil jurusan jahit bersahabat dengan Era, dari jurusan boga. Era sejak SMK sudah berpacaran dengan Agas yang kemudian memperkenalkan Niwa pada Yama, yang sama-sama dari jurusan otomotif sama seperti Agas. Mereka kemudian saling berhubungan sampai suatu hari saat Agas sudah lulus dan harus pergi ke Jakarta, Niwa mulai bermain hati. 

Pengkhianatan dan perselingkuhan Niwa akhirnya ketahuan juga oleh Yama. Sejak saat itu keduanya tidak lagi berhubungan. Dalam kurun waktu 10 tahun, banyak laki-laki silih berganti mengisi hati Niwa, tapi Niwa selalu saja tersakiti. Sepertinya ini karma! Niwa sesungguhnya masih sangat mencintai Yama. Ia menyesal atas kejadian 10 tahun lalu, namun belum sanggup meminta maaf. Suatu hari, Yama tiba-tiba datang mengunjungi toko jahit Niwa dan meminta Niwa membuatkan kebaya untuk calon istrinya. Hati Niwa sangat sakit. Meski ia tidak mau, namun pekerjaan ini harus ia lakukan untuk menebus kesalahan masa lalunya. 

Yamaniwa. Lucu ya judulnya? Awalnya kukira ini semacam bahasa asing mana yang berarti sesuatu. Ternyata sebuah gabungan nama. Bercerita tentang dunia jahit-menjahit (?) dan pengkhianatan cinta dari seorang perempuan. 

Kisah di novel ini, yang merupakan salah satu finalis lomba novel amore, mudah diikuti. Pemilihan katanya membuat novel ini mudah dipahami, ya walau ada campuran bahasa jawa-nya juga, tapi bahasa jawa-nya masih yang standard-standard aja kok. Kisah yang mengambil latar di Semarang ini, sebenarnya alurnya mudah ditebak. Aku sudah bisa menebaknya sejak di pertengahan novel karena ya, petunjuk-petunjuknya terlalu jelas. Nah, tapi hebatnya penulis, meski mudah ditebak novel ini tidak terasa membosankan dan bahkan tetap bikin aku baca sampai akhir. 

Yang aku pertanyakan adalah, kenapa latarnya harus di Semarang? Penasaran aja sih, kerena kayaknya gak ada yang terlalu khusus di kota itu dalam novel ini kecuali tempat belanja beli bahan yang di Citraland. Tokohnya yang serba ceplas-ceplos memang membuat novel ini lucu sih, meski agak diherankan karena terlalu ceplas-ceplos (?) apalagi si Sisil itu, aku jadi kurang suka sih. Karena ya, terlalu ceplas-ceplos itu untuk ukuran dia yang beda 10 tahun mungkin ya sama Niwa. 


Kisah rumah tangga Era dan Agas juga sempat dibahas di sini, agak-agak tengah ke akhir. Menurutku, itu agak kurang ‘nendang’ kisahnya? Bukan tempelan juga sih, tapi kayak ada yang kurang dari kisah itu. Aku tahu maksudnya mungkin ingin tambah menyadarkan Niwa, tapi ya cerita Era dan Agas seperti kurang eksekusi. Tapi overall, cerita di novel ini masih tergolong sangat nyaman untuk diikuti.

Aku belum banyak baca novel amore sih, tapi dari beberapa novel amore yang sudah saya baca, ini sepertinya yang paling lumayan. 3 of 5 stars!

Saturday, October 8, 2016

Pink Project - Retni SB



Pink Project
Penulis: Retni SB
Gramedia Pustaka Utama, Juli 2009. 

Blurb:   


Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.

Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Dan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan mengagumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.

Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya.... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah menghinanya habis-habisan itu?



Cinta tidak jarang dari rasa benci yang terlebih dahulu datang. Begitu kah yang terjadi pada Puti Ranin? Kesukaannya pada sebuah lukisan membuatnya diolok oleh seorang Sangga Lazuardy, pengamat lukisan. Sangga menganggap Puti memberi penilaian terhadap sebuah lukisan tanpa pengetahuan yang memadai. Puti memang bukan seorang pelukis, penggiat seni atau apapun yang berhubungan dengan lukisan, Puti hanya seorang pemilik toko buku yang kebetulan menikmati lukisan karya Pring itu. Dia menulis review terhadap lukisan karya Pring itu hanya sebagai sebuah karya yang indah yang dapat dinikmati orang awam seperti dirinya. Puti jadi kesal dan ingin bertemu langsung dengan Sangga, sebenarnya hanya untuk melihat bagaimana Sangga sebenarnya. 

Pertemuan itu terjadi di sebuah Galeri yang sedang mengadakan pameran lukisan. Di situ juga Puti bertemu Leo, seorang laki-laki yang sok kenal namun cukup membuat Puti nyaman. Sayangnya, Pring, pelukis kesukaannya tidak datang saat itu. Di lain sisi, Ina, sahabat Puti, yang sedang suntuk dengan hubungannya bersama tunangannya, Niko, justru bersikap tidak seperti dirinya di acara pameran itu. Setelah bertemu Sangga, hari Puti tidak sama lagi. Ina mulai bersikap aneh, Sangga mulai muncul dan mengganggu hari-harinya, dan dia mulai berhubungan dengan Pring, walau hanya lewat dunia maya. Ternyata di balik semua yang terjadi itu, ada sebuah projek yang dilakukan seseorang untuk seseorang yang melibatkan cinta dan orang-orang. 

“Mimpi-mimpi masa lalu, realitas kekinianku, kerinduan, pencarian, dan harapan-harapan hari esok bermain-main di kepalaku penuh warna. Membentuk sebuah lukisan imajiner yang tak mampu kuberi judul. Ah. Di titik ini, kusadari bahwa ternyata aku ini ‘belum penuh’. Aku masih memiliki banyak rongga dan serabut tanpa jalinan. Menunggu dipenuhi.” (halaman 116-117) 

Pink Project. Meski gak ngerti kenapa judulnya harus pink, mungkin karena pink mengibaratkan cinta, novel ini sangat sungguh bisa dinikmati. Pemilihan kata yang dipilih Retni SB di novel ini enak banget dibaca. Karena ini novel lama ya, jadi banyak kata yang nge-trend-nya di masa-masa itu juga. Tapi serius deh, ngalir banget, enak dibaca! Pemilihan lukisan sebagai pengait cerita juga menarik banget. Bukan dengan yang pelukis-pelukis banget, tapi ya sedikit-sedikit adalah belajar tentang dunia lukis dari novel ini. Cara menyampaikannya juga gak menggurui. Novel ini lebih banyak showing daripada telling, jadi ok. 

Dari segi cerita, ya lumayan sih. Bukan sesuatu yang ditawarkan. Tetap love-hate relationship gitu. Memang pada dasarnya, cerita di novel dibuat dengan segala kebetulannya lah ya, tapi di Pink Project ini, kebetulan-kebetulan yang terjadi itu berkesan halus banget, jadinya bisa dimaklumi gitu. Bukan yang tiba-tiba aja ada, tapi memang seperti sudah dipertimbangkan kapan dimunculkan. Suka deh kalau gak ada tokoh yang jahat. Walau sebal kalau ada hal-hal yang miss communication gitu, bikin gemas, untungnya di novel ini gak dibuat berlarut-larut. 

Tokoh-tokoh di dalamnya juga seperti benar-benar hidup. Ada interaksinya, gak cuma disebut-sebut aja. Suka sekali sama Imo, adik Puti. Tapi rasanya dia agak gak cocok buat anak 20 tahunan gitu ya? Enaknya dia jadi anak SMA aja gitu sih. Sayangnya untuk Puti, justru aku gak bisa bayangin dia gimana, maksudnya di novel ini kayak gak dijelaskan perawakannya, hanya sifatnya aja. Jadi menghayal bebas aja gimana kayaknya Puti itu. Pemilihan nama tiap tokohnya juga lucu. Indonesia banget tapi bukan nama yang biasa dipakai, kecuali Leo sama Ina dan Niko ya. Hahaha. 

Yang kurang kusuka itu, bagian menjelang ending-nya, bayanganku terhadap Sangga langsung otomatis berubah dan membuat aku jadi kurang suka sama Sangga. Aku juga berharapnya tokoh Leo lebih banyak lagi muncul gitu. Soalnya dia penghidup suasana. 

“Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Aku makin cantik kan?” Seperti robot aku mengangguk. “Mau tahu sebabnya?” Aku mengangguk lagi. “Karena aku bahagia. Aku sadar aku bahagia. Sejak dulu sebenarnya bahagia.” “Sebabnya…?” “Cinta. Apa lagi?” (halaman 206) 

Untuk cover, aku suka sih. Meski baca aja agak kenganggu dengan bunga yang di cover depan itu, soalnya itu ternyata gak nyatu kan sama cover pink belakangnya. Jadi pas dipegang saat baca, kayak ada yang ganjal. Tapi bunga di cover-nya bagus. Tulisan cover ‘Pink Project’ itu juga bagus. Dipikir-pikir kalau cover-nya cuma tulisan itu aja tanpa ada apa-apanya juga bagus ya. Hahaha. 


Oh iya, bunga di cover itu juga ada di tiap pergantian bab, nah itu yang justru ganggu. Soalnya kadang nutupin tulisan. 

Btw, karena ini metropop terbitan lama jadi gak ada pembatas bukunya atau karena aku belinya di obralan pembatasnya hilang (?) tapi aku belinya masih segel sih, jadi mungkin memang gak ada yang pembatas bukunya kali ya. 

Cerita: 3 dari 5 
Tokoh: 4 dari 5 
Pemilihan kata dan kenikmatan dibaca: 5 dari 5 
Cover dan packaging: 4 dari 5 

Total: 4 dari 5 bintang. YOHOOOO!

Thursday, October 6, 2016

Bambina - Angie Wiyaniputri


Bambina
Penulis: Angie Wiyaniputri
Cover: Marcel A. W.
Gramedia Pustaka Utama, November 2012.

Blurb:


Appetizer
Seperti salad di makanan pembuka Bambi, Mr. Kim sang pujaan hati bagaikan buah-buahan segar yang menggiurkan, sedangkan Leo, yang membuat Bambi melakukan the most embarrassing moment in her life, hanyalah selada hijau yang menjadi alas dasar piring salad. Bambi membenci Leo sang partner.

Soup
Leo selalu mengingatkan Bambi pada rasa HOT tabasco yang dimasukkan ke mangkuk sup tomat. Berada di samping Leo membuat Bambi selalu penuh dengan emosi. Berbeda sekali dengan Mr. Kim si pria romantis, kejutan-kejutan indah yang diberikannya seumpama wortel dan buncis yang mewarnai sup bening Bambi.

Main Course
Mr. Kim adalah kimchi jigae, sedangkan Leo adalah beef bourguignon. Bambi harus memilih salah satu menu untuk hidangan utamanya. Ia bukan wanita rakus. Tapi yang mana? Keduanya sangat enak!

Dessert
Pria itu bagaikan tiramisu di hidangan penutup Bambi. Selain mempunyai rasa manis dari cream mascarpone, tiramisu juga mempunyai rasa pahit dari kopi espresso. Tiramisu adalah kue kesukaan Bambi!



“Bambi melihat jam tangannya untuk ketiga kali. Pukul 17.33.”

Makanan selalu membawa sebuah kebahagiaan. Bambina Utama suka memasak. Untuk mewujudkan keinginannya menerbitkan buku resep, dia memerlukan seorang fotografer handal untuk memotret makanan yang ia masak. Hal itu mempertemukannya dengan Leo yang sudah menyebalkan sejak awal. Di lain sisi, Bambi menyimpan perasaannya pada Mr. Kim, pemilik restoran pasta yang gemar ia kunjungi. Leo si bule Paris vs. Mr. Kim si orang Korea. Siapa yang Bambi jadikan tempat hatinya berpijak?

Leo selalu menyebalkan, blak-blakan, seenaknya, dan sering sekali membuat Bambi sebal bahkan sejak pertama kali mereka berkenalan. Berbeda jauh dengan Mr. Kim yang sangat sopan, penyayang, dan selalu menghargai Bambi. Dibalut dengan segala macam masakan Bambi, novel ini mengajak kita mengetahui siapa yang Bambi pilih..

YAAA. Bingung gimana lagi mau ceritaiinnya. Ceritanya memang seperti itu saja. Jujur sejujurnya, aku gak suka novel ini. Terlalu banyak hal yang ganjal dan tiba-tiba dan menyebalkan. Contohnya, adegan di buka dengan Bambi yang nunggu Leo di restoran Mr. Kim. Karena si Leo lama gak datang dan pas itu juga mereka belum kenal muka, Bambi akhirnya memutuskan diri untuk teriak ‘siapa di sini yang namanya Leo?’ YAAAA. Terus di malu. Abis itu dia marah sama Leo karena bikin dia malu. Nah, masalahnya oke sih kalau  dia marah sama Leo karena Leo lama datang. Ini dia marah kerena Leo bikin dia malu. Padahal dia sendiri yang bikin diri sendirinya malu. Lol Bambi lol.

Novel ini memakai sudut pandang orang ketiga, jadi jangan heran kalau nama Bambi banyak sekali disebut. Bambi Bambi Bambi. Di awal rasanya kayak lagi baca cerpen di majalah BOBO.

Contohnya:
“Huh kesal! Lama banget sih si Leo itu! Sudah ditunggu berjam-jam, tidak muncul juga batang hidungnya! Tidak professional banget sih  dia! Batin Bambi menggerutu.

“Aku tidak bisa bertemu lagi dengan Mr. Kim, pikirnya sedih.

Terus juga, hubungan antar tokohnya terlalu cepat dekat. Belum apa-apa eh sudah suka. Baru ketemu sudah curhat aja. Baru kenal, bahkan ngobrol aja enggak, sudah diundang ke nikahan.. ke Korea lagi! Dan mau lagi! Ke Korea, menghadiri pernikahan seseorang yang baru dikenal gitu lho. Duitnya ya sayang.

Si Bambi ceritanya sudah 23 tahun, tapi rasanya kayak baru lulus SMA deh. Anehnya lagi, rasanya dia kayak orang kaya, tinggal di apartemen besar dan bagus, tapi dia bilang mau bikin buku resep ini buat ngumpulin uang untuk kuliah S2 di Paris. Yaa, harusnya kalau dia lagi ngumpulin duit setidaknya hemat dengan gak tinggal di apartemen atau gimana. Terus harusnya kalau lagi ngumpulin uang, gak gitu aja nerima ajakan orang ke Korea kan?

Di novel ini, Jepang dibilang negara di Asia Tenggara (halaman 70), padahal setahuku Jepang bukan ASEAN (?) di novel ini juga, banyak banget bahasa selain Indonesia yang dipakai. Jadi kayak wow hebat sekali tokoh-tokohnya bisa banyak bahasa hahaha.

Selain itu, masih banyak yang aku herankan sampai aku tekuk-tekuk halamannya.


Ini percakapan Bambi dan Leo lewat sms. Bambi bilang 'ok' langsung, tapi dia menggerutu di belakang. Padahal Bambi bukan orang yang sok baik kalau yang aku baca (?) Jadi harusnya, kalau gak setuju ya jangan langsung bilang ok dong.


Lalu, ada lagi, percakapan Bambi sama Mr. Kim ketika mereka masak. Bambi yang malu dipuji tapi terus nyerocos cerita dia ini itu seakan kan malah jadi pengen tambah dipuji (?)


Banyak sekali yang bikin aku sedih dari novel ini ya. Sedihnya bukan karena terharu, tapi kenapa kok kenapa.. semua tokoh di novel ini terlalu terburu-buru tapi terlalu berlarut-larut juga (masa pemotretan makanan aja harus lama sekali dan Bambi setuju padahal bukankah lebih cepat lebih baik), terlalu menganggu, terlalu ada di mana-mana, dan terlalu tiba-tiba, dan terlalu berlebihan (masa sakit panas aja manja banget ya ampun). Padahal dari konsep, menyatukan cerita cinta dengan makanan itu sudah menarik banget, tapi di novel ini justru fokus makanannya jadi hilang karena saat baca pengen cepat selesai aja, jadi banyak narasi yang dipercepat bacanya. Terlalu lelah. Seakan belum puas bikin yang baca menghela napas, di bagian menjelang ending, eh dibuat cerita baru dan hilang begitu aja. Abis hilang, eh datang lagi begitu aja.

Aku menyelesaikan baca novel ini dengan harapan akan ada bagian yang bisa kusukai, tapi sampai akhir, yang kusuka dari novel ini hanya well, ada resep di bagian akhir novel dan packaging novelnya yang bagus. Tapi rasanya kok menipu ya huhuhu. Aku sampai bingung gimana harus nulisnya. Terlalu banyak yang kupertanyakan, tapi rasanya kalau ditulis semua takut kayak haters eh.

Alasan aku nulis ini sebenarnya ingin menjabarkan yang aku tanyakan, tapi justru malah bingung sendiri. Semoga di novel selanjutnya, bisa lebih baik lagi ya. Semangat!

“God told me that love is patience. Aku akan sabar, sabar sampai secercah harapan itu menjadi kenyataan.” (halaman 198)   

Sayang, hanya 1 bintang untuk novel ini.

Tuesday, October 4, 2016

Catalyst (Katalis) - Laurie Halse Anderson


Catalyst (Katalis)
Penulis: Laurie Halse Anderson
Gramedia Pustaka Utama, 2011.

Blurb:

Kate Malone: pintar, mendapat nilai A untuk semua mata pelajaran, anak perempuan pendeta, dan pelari jarak jauh. Ia mampu mengatur hidupnya dengan baik dan menghabiskan waktu mengurus keluarganya sementara, pada saat yang sama, mencoba diterima di universitas impiannya, MIT. Ia sering berlari pada malam hari untuk melupakan masalah. Berlari jauh dan cepat melegakan kepalanya.

Kate menghabiskan waktu di sekolah dengan teman-teman dan pacarnya, Mitch, sambil menunggu surat datang dari MIT. Ketika akhirnya surat itu datang, dunia teratur Kate hancur berantakan karena MIT memutuskan ia belum bisa bergabung dengan universitas ternama itu. Dunianya bertambah rumit ketika ayahnya memutuskan membantu musuh masa kecilnya, Terry Litch, ketika rumah keluarga Litch terbakar. Mampukah Kate kembali ke hidup normal sebelum ia jadi gila?



Kate, pintar dalam pelajaran, sangat menyukai Kimia, pelari yang hebat, dan punya teman dan pacar yang mendukungnya. Hidupnya berjalan baik-baik saja walau ibunya sudah meninggal, adiknya, Toby, sakit asma, mobilnya (Bert) yang sering mogok dan rawan rusak, dan ayahnya seorang pendeta (yang sepertinya ia kurang sukai). Sebagai siswa kelas 3 SMA, Kate tentu mempermasalahkan kampus yang akan ditujunya saat kuliah nanti, MIT.

Di saat teman-temannya yang juga super pintar sudah mendapat kampus idaman mereka masing-masing, Kate masih menunggu kepastian dari kampus idamannya – MIT. Kehidupannya mulai kacau ketika ia kabar itu datang, MIT tidak menerimanya. Kate tidak punya kampus tujuan lain karena ia memang tidak mendaftar di mana-mana lagi dan yang ia inginkan hanya kuliah di MIT. Belum lagi, musuh masa kecilnya, Teri dan Mikey (adik Teri), harus tinggal di rumah Kate karena rumah mereka kebakaran. Tinggal bersama Teri tentu menjadi masalah, karena Teri memang tidak pernah bisa menjadi teman Kate. Tinggal bersama Mikey, walaupun merepotkan namun menggemaskan juga, meski karena Mikey, Kate tidak pernah bisa tidur malam dan lebih memilih berlari beberapa kilometer. Hidupnya tidak juga bertambah normal, kejadian yang tidak terduga kemudian datang dan memperburuk segalanya. 

“Katalisator adalah zat yang menambah kecepatan reaksi. Katalisator dimasukkan ke salah satu tahap reaksi, lalu nantinya diregenerasikan kembali dalam proses itu. Katalisator tidak habis terpakai, ia menciptakan jalur energi baru yang lebih rendah dalam reaksi tersebut.” – ARCO Everything You Need to Score High on AP Chemistry, cetakan ke-3 (hal. 80) 

Tidak pernah tahu menahu ada novel berjudul Catalyst karya Laurie Halse Anderson. Alasan memilih novel ini hanya karena cover-nya cantik dan judulnya yang mengingatkan pada judul novel thriller Indonesia (lol itu ternyata judulnya Katarsis). Jadi ya, akhirnya dibeli. Aku baca yang versi terjemahannya, label di belakangnya sih ditulis ‘novel dewasa’, tapi menurutku ini masuk ke young adult banget bukan dewasa. Semacam ceritanya John Green atau Jenny Han gitu. Mungkin tahun 2011 waktu itu belum booming lini ‘young adult’ kali ya, dan memang ada konten khas barat jadi buat jaga-jaga dilabeli ‘novel dewasa’. 


Ceritanya, well, apa ya.. enak untuk diikuti sih. Tipe-tipe cerita di mana female lead punya masalah dan pikiran-pikiran dia yang sassy gitu. Suka sih. Sampai tengah, belum ada indikasi di mana masalah utama bakal muncul. Maksudnya ya, iya si Kate ini gak keterima di MIT ok galau. Masalah di keluargnya ok dia jadi pusing. Nah, tapi sampai akhir pun kayak tidak juga diselesaikan. Bahkan sampai tamat, benar-benar yang ‘sudah, gini aja?’ ‘terus gimana?’ ‘Kate sama pacarnya gimana?’ dll. Menimbulkan pertanyaan yang memang seakan gak mau dijawab sama penulisnya tapi juga pembaca gak dikasih pilihan buat menebak gitu. 

Mungkin bagian ini spoiler, jadi lewatin aja satu paragraf ini, buat yang belum baca hehehe.

Agak bingung sama Mikey, kan dibilang adiknya Teri. Tapi terus pas Teri gendong Mikey setelah kejadian ‘itu’, Kate bilang ‘sekarang aku tahu, Mikey ‘anak laki-laki’ Teri.’ Ya semacam itu. Aku bingung aja, itu maksudnya Mikey sudah bukan seperti adik, tapi anak laki-laki Teri atau Mikey memang anak laki-laki Teri. (????)

Untuk karakter-karakternya, Kate, gila sih dia gak suka Bahasa Inggris tapi suka Kimia dan pinter banget Kimia. Sampai kalau ngomong atau mikir, Kimia banget lol. Teri, tipikal anak yang punya pemikirannya sendiri, berandal tapi penyayang.  Mitch, pacar Kate, sebenarnya baik, sayangnya kayak kurang keluar karakternya di sini dan kayak Kate tuh gak begitu sayang sama Mitch.. kasihan. Sara dan Travis, teman Kate, ya teman Kate, gak terlalu kelihatan juga karakternya, yang jelas mereka teman yang baik. Mikey, lucu sih gemas. Ayahnya Kate, ini juga masih abu-abu gitu, aku belum terlalu jelas alasan sebenarnya Kate gak begitu suka ayahnya. 


Kate dengan kegalauannya gak terima di MIT. Hahaha. Ini relate banget gak sih sama kehidupan anak SMA kelas 3? Dulu aku juga gitu soalnya. Was-was, galau, takut kalau gak bisa kuliah, tanggapan orang lain, dll. Seakan-akan pas gak diterima, dunia berakhir. Makanya pas baca kegalauan Kate di sini kayak yang ‘I feel u, Kate, I feel u.’ dan gak ngerasa Kate lebay.

Suka dengan ceritanya tapi gak begitu suka dengan cara penyelesaian di akhir novel. Sad ending enggak, happy ending pun enggak sepertinya. Benar-benar kayak, ‘sudah ya, selesai saja sampai sini, dadah.’ 

Anyway, 3,5 worth of stars.

Tuesday, September 27, 2016

(So-Called) Review: Memoir of a (So-Called) Mom


Memoir of a (So-Called) Mom
Penulis: Poppy D. Chusfani
Editor: Helen Menta Dumaris
Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2013.

Blurb:

Siapa yang berhak menentukan pilihan hidup kita?

Amelia, yang mendadak jadi ibu rumah tangga, berkeras mengatur hidupnya sendiri. Dia tidak mau orang lain ikut campur. Dengan bangga Amelia berkata lebih memilih cerdas ketimbang pintar. Namun saat dia tidak merasa pintar dan tindakannya tidak menunjukkan kecerdasan, Amelia mulai meragukan pilihannya. Apakah selama ini prinsipnya salah? Atau dia hanya tidak mampu berdiri tegak saat cobaan menghantam?

--

Bercerita tentang Amel, seorang wanita yang memiliki keluarga agak rese (apa rese banget?). Bukan keluarga intinya sih yang rese, tapi lebih ke keluarga besarnya (uwak - kakak dari ibunya apalagi). Judulnya 'memoir' karena ini memang bercerita dari awal dia baru mau nikah sampai anaknya sudah nikah lagi. Tapi cuma dalam 147 halaman saja. Ceritanya sih lebih lama berpusat pas Amel mau nikah sama Amel hamil, terus ngurusin anak. 

Segala yang Amel lakukan dalam hidupnya selalu dikomen sama si uwaknya itu. Ya biasalah, pas belum nikah, ditanya kapan nikah. Sudah nikah, ditanya kapan punya anak, dll.

Amel menghadapi hidupnya dengan penuh komentar itu ya dengan menjadi dirinya sendiri. Dibumbui masalah-masalah hidup khas keluarga, novel ini sebenarnya enak banget buat dibaca. Oh iya, suaminya Amel namanya Baron ya.

Hmm. Intinya sih gitu doang. Seorang ibu dan istri dengan segala keputusan dan masalah keuangan keluarga dan keluarga uwaknya yang rese karena selalu ngomel, dan cenderung banding-bandingin Amel sama anak-anaknya.

Yang aneh, ini ceritanya ditulis 2013 dan saat itu ceritanya anaknya Amel -- Anika, sudah punya anak lagi. Tapi dari awal tuh kayak gak ada perbedaan jaman yang terlalu gitu.. padahal harusnya awal gitu berarti minimal tahun 80-an lah ya (?) tapi ceritanya kayak semuanya terjadi di tahun 2000-an.

Untungnya cuma 147 halaman dan cara nulisnya enak banget, bahasanya ngalir seperti lagi baca diary orang aja. Tapi kalau terlalu tebal mungkin jadi bosen karena ceritanya cuma tentang Amel. Tapi aku nikmatin sih bacanya. Rasanya beda dari novel metropop lain (?) gak tahu kenapa. Oh iya, suka juga dengan cover-nya. Lucu sekali.

3 of 5 stars.

Friday, January 15, 2016

Critical Eleven


Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 halaman


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. 
In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. 
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya. 
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya. 

Tanya Baskoro (Anya) bertemu Aldebaran Risjad (Ale) dalam pesawat yang mengantarnya ke Sydney. Berawal dari kejadian yang sebenarnya membuat Anya merasa awkward, obrolan itu berlanjut menjadi saling ketertarikan antara keduanya. Setelah pertemuan mereka di pesawat tersebut, mereka sama-sama tahu hatinya saling tertinggal satu sama lain. Namun, baru setelah sebulan sejak pertemuan itu Ale baru kembali menghubungi Anya. Kemudian mereka mulai pacaran, dan setelah setahun memutuskan untuk menikah dan menjalankan kehidupan pernikahan jarak jauh. Ale yang merupakan seorang ‘tukang minyak’ harus membagi waktunya 5/5 (5 minggu di rig, 5 minggu di Jakarta) dan Anya seorang konsultan di Jakarta. Cerita yang sebenarnya baru mulai di sini, tentang kehilangan, manisnya masa lalu, dan kesempatan kedua.

YAAAAAH. Akhirnya kebaca juga ini buku.

Cerita yang pertama kali muncul sebagai cerpen di kumpulan cerpen metropop berjudul “Autumn Once More” ini sudah berhasil memikat hati saya jauh sebelum ada kabar bahwa kemudian cerita tersebut akan dinovelkan. Sejujurnya, gak pernah menyangka sama sekali ceritanya bakal jadi kayak ‘gini’. Well, it turn out good. Bahkan menurut saya, ini adalah novel terbaik Ika Natassa (I read all her works expect Underground and Divortiare but I already watch the short-movie-adaption and I read Twitvortiare, so.. hehe). Ini novel paling dewasa, paling ‘alim’, paling menyentuh, tapi dari semua label paling itu, tidak menghilangkan ‘ke-witty-an’ dalam tulisan Ika Natassa.

Namun, sebagai pembaca tentunya kadang susah aja buat puas. Saya suka banget sama cerita novel ini, tapi saya butuh percakapan dari Ale dan Anya lebih banyak. (I know the reason why they are not much talking tho, but still..) Lalu, alur cerita yang maju-mundur, hmm kadang saya gemes sendiri karena waktu ada bagian suatu kejadian dan udah penasaran banget gimana kelanjutannya, Anya atau Ale lalu malah kembali ke masa lalu dengan cerita bagaimana mereka dulu. Tapi justru di sini serunya ya, jadi kita para pembaca dibuat sebagai teman dan diceritain banyak banget gitu, macem dicurhatin mereka. Dan setelah saya pikir-pikir, emang manusia tuh suka gampang banget keinget masa lalu dan mau gak mau di otaknya keputer sendiri kejadian masa lalu kan, so this book is so ‘human’.

I love the concept and the story.
I love the cover.
I love Ika Natassa’s writing.
I love how Ika Natassa put Harris and Keara as a special guest in this book. And oh, there is Alex and Beno making cameo too I guess, hehe.
I love the ‘travel is….’ part.
I love the way Ika Natassa describe Jakarta and all the people in this city.

I just love this book. 4 of 5 stars!

“For many of us, Jakarta is not a city. It’s a book full of stories. Termasuk bagiku dan Ale. Terlalu banyak cerita kami berdua yang tersimpan di jengkal-jengkal kota ini.”

Saturday, October 24, 2015

Baca Bareng Minjul: Re-Write Mini Review

Re-Write

"Tidak ada kenangan yang bisa kautulis ulang. Tapi mimpi, bisa kaususun kembali."



Emma Grace
Gramedia Pustaka Utama, 2015.

Novel yang bercerita tentang bagaiman cara melupakan masa lalu dan move on untuk kehidupan yang baru dikemas sangat apik oleh Mbak Emma Grace. Salut! 294 halaman yang dirangkum dalam 22 bab plus epilog lumayan bikin emosi ikut naik dan turun saat membacanya. Serta, tentu saja novel ini berhasil membuat rasa penasaran karena rahasia-rahasia yang ditawarkan para tokoh utama.

Bercerita tentang Beth Samodro, cewek 20 tahun yang kuliah di Sydney menemani kakaknya, Sheila. Beth begitu jatuh cinta para Jared Tanudjaja akibat perhatian yang suatu hari dalam di masa SMA yang Jared berikan. Karena rasa cinta yang teramat sangat dan rasa ingin membalas kebaikan Jared masa SMA, Beth mau mengantikan posisi kerja Jared di FashionSheet selama 1 bulan. Jared sering memanfaatkan kesempatan seperti ini karena dia tahu, Beth tidak akan pernah bisa berkata ‘tidak’ atas permintaannya. Di FashionSheet lah kemudian Beth bertemu Derick Bhrasongko. Cowok yang menurut Beth sangat dingin. Rick tidak suka pada orang Indonesia dan benci sekali cewek lemah yang selalu saja mau bilang ‘iya’ karena cinta. Selain kehidupan cintanya, Beth memiliki rahasia yang begitu sakit untuk dia bagi kepada orang lain.

Di awal, rasanya gemes banget sama Beth karena dia nyebelin dan terlalu kemakan cinta banget. Namun sampai di akhir, Beth menunjukan perubahan. Dan aku salut sama Mbak Emma, karena perubahan Beth tidak dijelaskan terlalu ekstrem. Perlahan tapi yang membaca ikut tahu kalau si Beth ini nyatanya berubah.  
Selain tokoh-tokoh utama di atas, ada tokoh pendukung lain seperti Sheila (kakaknya Beth), Stephen, Isla, Judith, Ms. Colleen, dan Gwen. Selain Sheila, tokoh pendukung yang lain seperti kurang porsi di novel ini. Apalagi Gwen dan Ms. Colleen, yang sebenarnya mungkin bisa dibuat lebih ‘banyak omong’ lagi.

Judul yang diambil, “Re-Write”, begitu pas menggambarkan suasana novel secara keseluruhan. Pernah baca di salah satu blog yang mewawancara Mbak Emma, katanya rencana awal novel ini akan diberi judul “The Bucket List”. Untung saja pada akhirnya diganti “Re-Write” ya, karena memang judul ini yang paling cocok, hehe. Layout dalam novelnya juga oke. Begitu simple tanpa ada gambar-gambar khusus, namun justru malah terlihat lebih rapi.

Pemilihan kata yang dipilih Mbak Emma enak banget buat dibaca. Mendukung cerita yang begitu ngalir dan minim typo, bikin novel “Re-Write” ini bisa kita nikmati tanpa harus pusing. Ada beberapa typo yang sebenernya gak terlalu mengganggu.

1. Halaman 33. Ketika Jared lagi ngomong berdua sama Beth, tiba-tiba ada kalimat yang menuliskan Rick yang menghembuskan napas.

2 Halaman 104. Sebenarnya mungkin bukan typo, tapi agak membingungkan. Waktu Rick lagi marah sama Beth dia bilang, “Jawab pertanyaanku!”. Lalu Beth jawab, “kupikir…” dilanjutkan dengan “kupikir jawabanmu itu artinya tidak.” Bingung aja, entah itu harusnya diucapin sama Rick atau kalau diucapin Beth, bukankah harusnya “kupikir jawabanku itu artinya tidak” ya? Hehhehehe.

3. Halaman 180. Ada kata “sa_mar” yang harusnya “samar”.

4. Halaman 236. Font keterangan yang bukan bagian dari surat (di bagian itu ada suratnya), tapi font-nya ikut sama seperti font surat.

Mengenai cerita, menurutku sudah pas. Di awal konflik mulai muncul, di pertengahan cerita satu rahasia mulai terbuka, tapi Mbak Emma gak membiarkan semua rahasia akhirnya terbuka. Namun, clue-clue tetap diberikan biar nebak-nebaknya jadi asik. Alurnya bergerak lumayan cepat, jadi walau dibuat nebak-nebak, tapi gak sampai bikin bosen karena isinya nebak-nebak mulu. Intinya, Mbak Emma pintar menempatkan inti-inti rahasia dimana harus dibongkar.

Pada awalnya, latar Sydney yang digambarkan di novel ini kurang berasa. Namun mendekati akhir, akhrinya kerasa juga. Jadi tahu tentang perayaan natal di Sydney itu salah satunya kayak apa. Untuk rasa ‘young-adult’-nya entah kenapa sampai akhir cerita pun kurang kerasa. Beth dan Rick memang digambarkan berusia 20 tahunan. Dan sikap Beth yang terlalu cinta pun menggambarkan bahwa Beth masih dewasa muda. Tapi ya gak tahu kenapa juga, mungkin karena latar cerita awalnya banyak digambarkan di lingkup pekerjaan.

Oiya, beberapa hal lagi yang menyenangkan ketika baca novel ini adalah banyak nama makanan yang bikin penasaran, judul film yang bisa jadi rekomendasi buat ditonton, dan ada beberapa lagu juga, apalagi lagu Canon in D Mayor itu.

And… one more thing that surprise me! Penasaran dengan maksud dari penempatan lagu Ed Sheeran yang di awal, ternyata terjawab di bagian akhir.

Novel ringan dengan pesan yang cukup mendalam. I definitely will read "Pay it Forward" and another Emma Grace's novels in the future. Thanks, Mbak Emma!

Anyway, I will give my thanks to Beth and Rick too! The best thing about reading book for me is like I got more stories to learn from someone else’s life.

“Kau yang memberitahuku supaya tidak melakukan hal yang tidak ingin kulakukan hanya karena orang lain. Maksudku, itu pasti berlaku sama dengan pendirian, bukan? Tidak mengiyakan pendapat orang yang tidak kusetujui opininya, hanya karena aku sungkan?” 

“Waktu bukanlah sesuatu yang absolut. Dan setiap orang memiliki jam digital mereka masing-masing.” 

“Ketika kau peduli pada seseorang, terluka adalah syaratnya. Terluka merupakan satu bagian yang akan kauterima dan pasti kauterima.”

 PS: Terima kasih banyak untuk Mas Ijul (@fiksimetropop) dan Mbak Emma (@emmagrac3) yang sudah memberi kesempatan untuk ikut dalam kegiatan #BBM_ReWrite ini. Thanks a lot! Untuk Mbak Titin (@agustine_w) juga terima kasih untuk baca bareng seminggu ini. Semoga bisa ketemu suatu saat!

Thursday, June 18, 2015

Kismet


Judul: Kismet
Penulis: Nina Addison
ISBN: 978-602-03-1487-7
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Dini Novita Sari & Harriska Adiati
Tebal: 296 halaman
Cetakan pertama, 2015.

Blurb:
kismet//takdir//destiny. Kata yang melibatkan semacam rahasia kosmik, yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang, menggiringnya ke tempat ia seharusnya berada. 
Konsep itu menggelikan bagi Alisya.  
Tetapi ketika di tengah hiruk pikuk New York City ia bertemu dengan Cia, perempuan yang seketika menjadi sahabatnya, Alisya bertanya apakah takdir sedang bekerja? 
Lalu muncul Raka, satu-satunya cowok yang bisa membuat Alisya jatuh cinta. Lelaki yang, lagi-lagi, dibawa takdir masuk ke hidupnya. Sayangnya, takdir yang satu ini berpotensi menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Jadi, mana yang harus ia pilih? 
Orang bilang persahabatan itu kekal, untuk seumur hidup. Namun, bukankah cinta sejati juga demikian?

Kismet atau takdir membawa Alisya pergi ke New York untuk menggejar cita-cita dan passion-nya. Lagi-lagi karena takdir, Alisya yang memang sedang bingung mencari apartemen murah untuk ditinggalinya bertemu dengan Cia, seorang gadis pemberani yang menolongnya dari gangguan laki-laki nakal dan kemudian bersedia berbagi tempat tinggal. Long story short, mereka berdua kemudian menjadi sahabat. Meski agak bermasalah di awal, Cia tahu bahwa Alisya punya banyak kesamaan dengannya. Cia lah yang memperkenalkan teori kismet kepada Alisya, yang sebenarnya dia anggap agak tidak masuk akal. Sama-sama orang Indonesia, sama-sama kabur dari keluarga, lalu tidak disangka-sangka mempunyai tanggal lahir yang hanya beda satu hari. Atas usul aneh Cia, mereka kemudian mempunyai tradisi untuk merayakan ulang tahun masing-masing dengan cara berbuat suatu kebaikan. Lewat tradisi itu pula lah Alisya kemudian bertemu dengan Mr. Gajah. Dalang yang membuat Alisya harus memilih, sahabat atau cinta.

Hubungan Alisya dan Mr. Gajah terbilang cukup singkat. Berawal dari Alisya yang meminta Mr. Gajah menceritakan masalahnya (untuk memenuhi tradisi kebaikan di hari ulang tahun Alisya). Mr. Gajah yang sama-sama keturunan orang Indonesia pun terbujuk dan mulai menceritakan masalah yang menimpa adik dan keluarganya. Singkat cerita, Mr. Gajah ingin Alisya bertemu dengan adiknya, namun hari itu tidak pernah ada karena Mr. Gajah tidak menepati janjinya dengan Alisya.

Persahabatan Cia dan Alisya berjalan baik sampai akhirnya Cia mendapat masalah dan mengharuskan untuk pulang ke Indonesia dan meninggalkan New York. Lima tahun kemudian, Alisya yang perlahan tapi pasti sudah mulai menghidupi passion-nya diminta Cia untuk mengunjunginya di Indonesia. Di situlah Alisya bertemu Raka. Perasaan aneh muncul ketika mereka pertama kali bertemu, belum juga masalah bahwa ternyata Cia menyukai Raka. Dari sini lah kemudian misteri-misteri kehidupan Alisya terkuak satu persatu terpilin dan menghasilkan takdir dan sebelumnya Alisya tidak pernah kira. Dari sini juga teori kismet mulai terasa tidak lagi menggelikan.

Kismet bukanlah novel yang menghadirkan konsep cerita baru. Maksudnya, udah banyak deh novel yang pakai takdir sebagai pemersatu jalan cerita. Tapi entah kenapa, Kismet disuguhkan sangat menyenangkan untuk dibaca. Gimana ya? Walaupun di novel ini bikin tambah kerasa banget dunia itu sempit, dimana kalau kita ketemu banyak banget kebetulan di novel lain bakal bikin kita sebel, di Kismet kebetulan-kebetulan itulah yang menyatukan cerita dan gak bikin sebel sama sekali malah bikin gak bisa berhenti baca.

Dari awal, rasanya membaca Kismet ini kayak lagi ngobrol sama Alisya deh. Fun, tapi ada sedih-sedihannya juga. Ya, jadi kayak si Alisya nih curhat sama kita si pembaca tentang apa yang terjadi dalam hidupnya selama 10 tahun terakhir. Makanya agak aneh waktu di bagaian akhir POV ganti ke Ethan (adiknya Alisya) dan Raka, walau gak banyak jadi gak terlalu ganggu. Eh, yang tapi ganggu juga sih (lah), soalnya kayak temen kita lagi curhat terus tiba-tiba diinterupsi gitu.

Alur ceritanya pas dan tertata, gak lambat juga gak cepet. Saya suka gimana Mbak Nina menggambarkan Raka gak selalu sempurna, tapi dia ada jeleknya juga. Terus jalinan hubungan Cia dan Alisya kerasa banget dari yang belum terlalu kenal sampai kenal banget, walau ya di akhir porsi Cia agak kurang. Oh iya, dan saya juga suka gimana Mbak Nina menghadirikan murni Bahasa Inggris di percakapan yang memang berbahasa Inggris. Bahasa Inggris-nya gampang dipahami kok, jadi gak bikin bingung. Lalu penempatan ilustrasi yang gak di semua bab, justru bikin tambah suka, kayak bonus yang gak terkira-kira gitu.

Adegan-adegan yang saya suka di Kismet selain yang udah dijelaskan di sini buat ikut kuis #KismetGoodieBag (semoga menang!), juga ada di halaman 191, ketika Raka ngomong sama Alisya gini:

“Aku juga punya perasaan. You can’t expect me to love Cia, just because you don’t have the courage to be honest to your friend, not to mention yourself. Cia akan tahu, cepat atau lambat. She is not stupid.”
Nah! Kadang cewek-cewek sahabatan yang lagi suka sama cowok yang sama nih suka pada ribut sendiri terus ngelupain perasaan cowoknya. Kan ada saking sayangnya sama sahabatnya terus dia minta si cowok buat milih sahabatnya aja, padahal kan ya si cowok juga berhak milih. Ya, gimana ya. Hidup memang pelik.

Sayangnya, walaupun enjoy banget baca novel ini, ada kekurangannya juga. Yaitu latar New York yang kayaknya kurang ditampilkan secara detail. Terus juga pas Alisya belajar membatik untuk dipakainya di desain baju dia, kan cuma diceritain proses dia belajarnya, padahal saya juga pengin tahu lalu gimana dia mengaplikasikan pada desain bajunya. Yang kurang lagi, tokoh-tokoh di dalamnya belum ada yang bikin jatuh cinta. Agak susah ya suka sama Alisya dan Raka, gak tau kenapa. Tadinya suka sama Cia, cuma di pertengahan sampai akhir dia kayak jarang muncul lagi gitu. Dan maunya sih Hope dikasih bagian yang agak banyak juga ngomongnya, yang lucu-lucu gitu atau gimana misalnya. Ethan lumayan potensial sih, tapi ya belum jadi favorite. Nah, kalau sama Mr. Gajah, saya tadinya suka beneran, tapi ya kok… (gak dilanjut, takut spoiler).

Yang agak janggal menurut saya, di awal bab ditulis “Musim gugur, delapan tahun lalu.” Terus di halaman 121, ceritanya persahabatan Alisya dan Cia udah lima tahun dan dikabarkan Cia melahirkan saat ini. Nah, lalu setelah halaman itu latar waktu jadi beberapa minggu lalu, yang berarti kehitungnya sudah 8 tahun bersahabat. Tapi kok, ini ulang tahun anaknya Cia yang kelima? Berarti harusnya terhitung setelah melahirkan udah 10 tahun dong sahabatannya bukan 8 tahun? Ahahahaha, bingung sendiri. Mungkin karena saya melewatkan detail dan salah ngitung atau gimana, tapi hal ini gak akan ganggu cerita sih. Cuma ganggu saya yang bingung sendiri aja.

Intinya sih novel ini bagus, worth to read banget. Buat yang penasaran ya baca aja, gak perlu ragu. Apalagi kalau ada diskon 30% di toko buku, hahahaha. 3 bintang deh!

Life may bring you wrong turns, but destiny will take you there.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...