"With peaks of joy and valleys of heartache, life is a roller coaster ride, the rise and fall of which defines our journey. It is both scary and exciting at the same time." - Sebastian Cole
Showing posts with label new authors reading challenge. Show all posts
Showing posts with label new authors reading challenge. Show all posts

Thursday, January 7, 2016

All The 2015 Wrap Up

Sorry for being late.
AND SORRY FOR MESSING UP ALL THE CHALLENGE.
Sebenernya malu mau post postingan ini. Hehehehehehe. But I write it anyway (shameless!).

1. 2015 Joglosemar Babat Timbunan (FAILED!)



I just can’t control myself everytime I see a place full of books and all the discount (apalagi sejak pindah ke Jakarta).
I.
Just.
Can’t.
WHYYYY.

2. Comic Reading Challenge 2015 (FAILED!)



I read and re-read a bunch of comics this year, but I failed at making review. I only make 4 reviews, what a shame.

3. Receh Untuk Buku 2015 (SUCCEED!)


Update it soon! (Maybe...)

4. Project Baca Buku Cetak (SUCCEED!)



I lost count at how many books I read this year, but I think all the books are physical book tho.

5. New Authors Reading Challenge 2015 (Kinda SUCCEED!)



I choose the easy one, right? 1-15 books. I succeed reading around 18 books (or more?) but I failed at the special challenge.

6. Goodreads Challenge (Kinda SUCCEED!)

Ok. Ok. Kayaknya sih sukses karena banyak buku yang aku baca gak aku masukin ke goodreads. Tapi iya, kok, sukses kok yang ini.

7. One Coin One Star (FAILED!)



Awalnya, excited banget sama challenge ini, biar sekalian nabung. Tapi karena sibuk banget pindahan bulan September (dan sibuk juga sebelumnya itunya), banyak buku yang dibaca kemudian gak dimasukin ke goodreads, jadi lupa udah baca buku apa dan berapa bintang yang dikasih. Jadi lupa juga kalau ikut challenge ini, jadi gak nabung deh. Maybe this year, huh?


SOOOOO. That’s all. Padahal awal tahun 2015 kemaren udah bayangin akhir tahun bakal bikin wrap up dengan hati riang gembira. Tapi kok malah malu gini ya.
Semoga tahun ini nasib ini blog lebih baik. See ya!





Saturday, October 24, 2015

Baca Bareng Minjul: Re-Write Mini Review

Re-Write

"Tidak ada kenangan yang bisa kautulis ulang. Tapi mimpi, bisa kaususun kembali."



Emma Grace
Gramedia Pustaka Utama, 2015.

Novel yang bercerita tentang bagaiman cara melupakan masa lalu dan move on untuk kehidupan yang baru dikemas sangat apik oleh Mbak Emma Grace. Salut! 294 halaman yang dirangkum dalam 22 bab plus epilog lumayan bikin emosi ikut naik dan turun saat membacanya. Serta, tentu saja novel ini berhasil membuat rasa penasaran karena rahasia-rahasia yang ditawarkan para tokoh utama.

Bercerita tentang Beth Samodro, cewek 20 tahun yang kuliah di Sydney menemani kakaknya, Sheila. Beth begitu jatuh cinta para Jared Tanudjaja akibat perhatian yang suatu hari dalam di masa SMA yang Jared berikan. Karena rasa cinta yang teramat sangat dan rasa ingin membalas kebaikan Jared masa SMA, Beth mau mengantikan posisi kerja Jared di FashionSheet selama 1 bulan. Jared sering memanfaatkan kesempatan seperti ini karena dia tahu, Beth tidak akan pernah bisa berkata ‘tidak’ atas permintaannya. Di FashionSheet lah kemudian Beth bertemu Derick Bhrasongko. Cowok yang menurut Beth sangat dingin. Rick tidak suka pada orang Indonesia dan benci sekali cewek lemah yang selalu saja mau bilang ‘iya’ karena cinta. Selain kehidupan cintanya, Beth memiliki rahasia yang begitu sakit untuk dia bagi kepada orang lain.

Di awal, rasanya gemes banget sama Beth karena dia nyebelin dan terlalu kemakan cinta banget. Namun sampai di akhir, Beth menunjukan perubahan. Dan aku salut sama Mbak Emma, karena perubahan Beth tidak dijelaskan terlalu ekstrem. Perlahan tapi yang membaca ikut tahu kalau si Beth ini nyatanya berubah.  
Selain tokoh-tokoh utama di atas, ada tokoh pendukung lain seperti Sheila (kakaknya Beth), Stephen, Isla, Judith, Ms. Colleen, dan Gwen. Selain Sheila, tokoh pendukung yang lain seperti kurang porsi di novel ini. Apalagi Gwen dan Ms. Colleen, yang sebenarnya mungkin bisa dibuat lebih ‘banyak omong’ lagi.

Judul yang diambil, “Re-Write”, begitu pas menggambarkan suasana novel secara keseluruhan. Pernah baca di salah satu blog yang mewawancara Mbak Emma, katanya rencana awal novel ini akan diberi judul “The Bucket List”. Untung saja pada akhirnya diganti “Re-Write” ya, karena memang judul ini yang paling cocok, hehe. Layout dalam novelnya juga oke. Begitu simple tanpa ada gambar-gambar khusus, namun justru malah terlihat lebih rapi.

Pemilihan kata yang dipilih Mbak Emma enak banget buat dibaca. Mendukung cerita yang begitu ngalir dan minim typo, bikin novel “Re-Write” ini bisa kita nikmati tanpa harus pusing. Ada beberapa typo yang sebenernya gak terlalu mengganggu.

1. Halaman 33. Ketika Jared lagi ngomong berdua sama Beth, tiba-tiba ada kalimat yang menuliskan Rick yang menghembuskan napas.

2 Halaman 104. Sebenarnya mungkin bukan typo, tapi agak membingungkan. Waktu Rick lagi marah sama Beth dia bilang, “Jawab pertanyaanku!”. Lalu Beth jawab, “kupikir…” dilanjutkan dengan “kupikir jawabanmu itu artinya tidak.” Bingung aja, entah itu harusnya diucapin sama Rick atau kalau diucapin Beth, bukankah harusnya “kupikir jawabanku itu artinya tidak” ya? Hehhehehe.

3. Halaman 180. Ada kata “sa_mar” yang harusnya “samar”.

4. Halaman 236. Font keterangan yang bukan bagian dari surat (di bagian itu ada suratnya), tapi font-nya ikut sama seperti font surat.

Mengenai cerita, menurutku sudah pas. Di awal konflik mulai muncul, di pertengahan cerita satu rahasia mulai terbuka, tapi Mbak Emma gak membiarkan semua rahasia akhirnya terbuka. Namun, clue-clue tetap diberikan biar nebak-nebaknya jadi asik. Alurnya bergerak lumayan cepat, jadi walau dibuat nebak-nebak, tapi gak sampai bikin bosen karena isinya nebak-nebak mulu. Intinya, Mbak Emma pintar menempatkan inti-inti rahasia dimana harus dibongkar.

Pada awalnya, latar Sydney yang digambarkan di novel ini kurang berasa. Namun mendekati akhir, akhrinya kerasa juga. Jadi tahu tentang perayaan natal di Sydney itu salah satunya kayak apa. Untuk rasa ‘young-adult’-nya entah kenapa sampai akhir cerita pun kurang kerasa. Beth dan Rick memang digambarkan berusia 20 tahunan. Dan sikap Beth yang terlalu cinta pun menggambarkan bahwa Beth masih dewasa muda. Tapi ya gak tahu kenapa juga, mungkin karena latar cerita awalnya banyak digambarkan di lingkup pekerjaan.

Oiya, beberapa hal lagi yang menyenangkan ketika baca novel ini adalah banyak nama makanan yang bikin penasaran, judul film yang bisa jadi rekomendasi buat ditonton, dan ada beberapa lagu juga, apalagi lagu Canon in D Mayor itu.

And… one more thing that surprise me! Penasaran dengan maksud dari penempatan lagu Ed Sheeran yang di awal, ternyata terjawab di bagian akhir.

Novel ringan dengan pesan yang cukup mendalam. I definitely will read "Pay it Forward" and another Emma Grace's novels in the future. Thanks, Mbak Emma!

Anyway, I will give my thanks to Beth and Rick too! The best thing about reading book for me is like I got more stories to learn from someone else’s life.

“Kau yang memberitahuku supaya tidak melakukan hal yang tidak ingin kulakukan hanya karena orang lain. Maksudku, itu pasti berlaku sama dengan pendirian, bukan? Tidak mengiyakan pendapat orang yang tidak kusetujui opininya, hanya karena aku sungkan?” 

“Waktu bukanlah sesuatu yang absolut. Dan setiap orang memiliki jam digital mereka masing-masing.” 

“Ketika kau peduli pada seseorang, terluka adalah syaratnya. Terluka merupakan satu bagian yang akan kauterima dan pasti kauterima.”

 PS: Terima kasih banyak untuk Mas Ijul (@fiksimetropop) dan Mbak Emma (@emmagrac3) yang sudah memberi kesempatan untuk ikut dalam kegiatan #BBM_ReWrite ini. Thanks a lot! Untuk Mbak Titin (@agustine_w) juga terima kasih untuk baca bareng seminggu ini. Semoga bisa ketemu suatu saat!

Thursday, July 2, 2015

New Authors Reading Challenge: Mei - Juni Progress


New Authors Reading Challenge Update!

Level: Easy (1-15 books)
Level tambahan: What's in a Name & Support Local Author


MEI

1. On a Journey - Desi Puspitasari 
(support local author)


Tentang penulis patah hati yang memutuskan untuk pergi entah kemana dengan sepedanya, mengobati rasa sakit hatinya. Di sana kemudian dia bertemu orang-orang yang sedikit banyak menginspirasi hidupnya.
Dua setengah bintang.


2. Sparkle - Eve Shi
(support local author)


Idol grup yang terdiri dari 16 personil dengan masalah yang menimpanya. Kisah keluarga, persahabatan, cinta, dan misteri penggemar yang mencurigakan. 
Tiga bintang.


3. Reborn: Karena Setiap Orang Membutuhkan Kawan Bicara - Ifnur Hikmah & Harninda Syafitri
(support local author)


Dua orang yang bertemu dan mencoba berdamai dengan masa lalu. 
Tiga bintang.



JUNI

4. Singapore Begins - Agata Barbara (review)
(support local author)


Kisah 5 orang beda negera yang dipertemukan dalam satu rumah kost di Singapore. Walau merasa terbuang, mereka akhirnya pun sadar, pasti ada hal baik dibalik setiap keputusan.
Tiga setengah bintang.

5. Duet - Angela Marchelin, Nita Ramadhita, Ryvannafiza
(support local author)


Tiga novella dengan latar Korea, pemenang Korean Story Contest 2012. Menyuguhkan cerita yang berbeda dan penuh dengan haru dan tawa.
Tiga bintang.


YUP! Cuma segitu yang berhasil ditempuh dalam 2 bulan. Semoga setengah tahun kedepan bakal lebih baik lagi. Ciao!

Thursday, June 25, 2015

Singapore Begins


Judul: Singapore Begins
Penulis: Agata Barbara
Penerbit: Ice Cube Publisher
Cetakan pertama, April 2015.


Blurb:
“Tepparapol Goptanisagorn.” 
“Hah?” ujar Kanna spontan tanpa dia sadari. 
“Namaku. Tepparapol Goptanisagorn,” sang cowok mengulangi, kali ini dengan sedikit lebih lambat. 
Kanna mengerjap. Tep… teppa… Gopta… “Apa?” 
Kanna tahu dia bukan anak kesayangan Mama-Papa, tapi dibuang ke Singapura tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Namun apa boleh buat, hasil tes kepribadiannya yang minus membuat keputusan orangtuanya tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah Kanna akan tinggal sekarang, di sebuah rumah kos bersama empat orang lainnya dari empat negara berbeda pula. Baru saja menginjakkan kaki di sana, Kanna sudah disambut oleh ibu kos superheboh. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis bule yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Oh, dan suara tangisan siapa itu dari lantai dua? Cuma setahun, sih, tapi bagaimana cara Kanna bertahan kalau menyebutkan nama salah satu housemate-nya saja sudah begitu sulit?

Ini pertama kalinya saya baca YARN dan kayaknya saya membuat pilihan yang tepat dengan memilih Singapore Begins sebagai pengenalan untuk seri YARN ini. Yey!


Berisikan cerita tentang moral dan persahabatan yang kental, Singapore Begins membuat kita berkenalan dengan 5 orang sahabat beda negara yang disatukan dalam satu rumah kost di Singapura. Dengan kepribadian masing-masing, 2 cewek 3 cowok yang tinggal bersama ini berhasil belajar sesuatu dari ‘pengasingan’ mereka di Singapura.

Meet the gang:

1. Kanna Hartono, cewek tomboy asal Indonesia. Sering dikira orang Jepang karena namanya. Dikirim ke Singapura oleh orang tuanya untuk belajar dan mencari teman, karena tes psikologinya mengatakan kalau kemampuan mengekspresikan dirinya kurang. Kanna terlalu tertutup, dingin, dan mandiri. Namun Kanna merasa alasan itu hanya untuk memperkuat tindakan orangtuanya untuk membuangnya jauh dari rumah.
2. Sally Christina Wilfred, bule Amerika. Cantik, tinggi, putih, bermata hijau, dan berisik. Tipikal cherish-girl yang menyenangkan. Kadang-kadang (bahkan lebih sering) terlalu drama, namun selalu ceria kayak hidupnya gak banyak masalah.
3. Kim Joon Hee, cowok tampan Korea dengan mata hitam bulat, hidung mancung, dan rambut hitam kecoklatan. Joon Hee memiliki orangtua yang posesif, namun pasti ada alasan tersendiri kenapa dia memutuskan pindah ke Singapura. 
4. Paresh Abharana, cowok iseng dan kelebihan energi yang berasal dari India. Mungkin kalau di sekolah-sekolah gitu dia tipikal badut kelas dengan segala ide jailnya.
5. Tepparapol Goptanisagorn, atau disingkat G. Cowok tinggi dari Thailand dengan segala ke-terlalu-berlebihan-dan-heboh-nya.

Dan Jun, beserta tokoh-tokoh lain yang turut menyemarakan cerita.

Isi novelnya fun dan kekinian deh, hahaha. Bakal nemu nama film, buku, bahkan drama korea yang lagi digandrungi banget untuk jaman sekarang. Dan kayaknya udah lama deh gak baca cerita persahabatan kayak gini. Meski awal-awalnya mikir mungkin kalau tokoh-tokohnya dijadiin anak SMA bakal lebih asik. Tapi terus, gak jadi deh, jadi anak kuliahan juga udah asik. Well, awalnya juga agak bingung ini ceritanya mau tentang apa ya garis besarnya, apakah pengasingan dari orang tua, apa pembuktian pembelajaran masa lalu atau gimana, eh ternyata kayaknya ini bergaris besar tentang cyber-bullying yang baru ada di pertengahan cerita. Tapi tentunya juga dibalut dengan kisah-kisah masa lalu para tokoh yang menjadikan mereka akhirnya tinggal dalam satu rumah di Singapura. Dan buat yang suka romance, jangan khawatir, novel ini walaupun YARN, tetep ada kisah cintanya kok walau sedikit (tapi porsinya sangat cukup) (cukup bikin penasaran).

Tentang cerita dengan tokoh yang berbeda kewarganegaraan, suka sih penulis menghadirkan 5 tokoh (bahkan 6 atau 7 malah) dari negara berbeda dan kita juga sempet dikasih adegan culture-shock. Terus suka juga kerena penulis sempet-sempet menyelip kebiasaan dari negara-negara itu, jadi bisa nambah pengetahuan. Nah, masalah tokoh, menurut saya si Kanna ini terlalu pinter dan tahu segalanya (lha) (bilang aja iri) hahaha. Jadi kurang suka Kanna, tapi I love Sally dan Jun! Sayang Jun kurang banyak porsinya. Juga, cerita di novel terlalu berpusat sama hubungan Kanna – Sally dan Kanna – Joon Hee. Maksudnya, novel ini bakal lebih seru kalau adegan Kanna – G atau Kanna – Paresh juga sebanyak Sally dan Joon Hee. Jadi kayak pembaca mengenal G dan Paresh cuma dari narasi Kanna aja, gak terlalu banyak percakapan antara mereka. Bahkan pas mengetahui masa lalu aja, bagian Sally dan Joon Hee ada percakapannya, sedangkan G dan Paresh Cuma dinarasikan aja. Tapi gak apa-apa, tetep suka cerita persahabatan kayak gini.

Suka juga sama ending-nya. Suka sama selipan-selipan moral yang tetep menyenangkan saat dibaca. Suka sama gaya menulisnya dan kayaknya ini kebanyakan dari pengalaman penulisnya ya? Suka deh pokoknya. OH, iya! Dan suka juga sama cover-nya.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal (halah), ngompres orang demam itu pakai air es atau air hangat sih? Di novel ini pakai air es, sempet googling katanya pakai air hangat, tapi terus nanya ke seseorang jawabannya pakai air es juga. Wah, harus nanya dr. Oz nih!

I’m looking forward to read another YARN-novels!

3,5 of 5 stars.
“Dan orang yang sulit untuk memercayai siapa pun.. akan memercayai sahabat-sahabatnya seumur hidup.” - Kanna 

Saturday, May 2, 2015

New Authors Reading Challenge: Januari - April Progress


New Author Reading Challenge Update!

Level: Easy (1 - 15 books)
Kategori tambahan: What's in a Name & Support Local Author

Januari

1. CoupL(ov)e - Rhein Fathia (review)
2. CallaSun - Yuli Pritania (review)
3. Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya - Maggie Tiojakin (short review)

Februari

4. Autumn Sky - Aiu Ahra (short review)
5. Let it Snow - John Green, Lauren Myracle, Maureen Johnson (review)

Maret

6. #CrazyLove: Stalking - Elsa Puspita, Donna Widjajanto, Gianti Pradipta, Dy Lunaly     
7. Hujan Matahari - Kurniawan Gunadi
8. Cheeky Romance -  Kim Eun Jeong

April

9. Tomodachi - Winna Efendi
10. Semata Cinta - Chacha Thaib

Yap, lumayan deh 10 buku. Walau cuma 5 buku awal aja yang ber-review. Untuk kategori tambahan yang 'What's in a Name' kayaknya perlu ditingkatkan lagi nih. Semoga bulan depan juga udah bisa naik level.

Sekian mini-post ini. See you in the next post!

Wednesday, February 25, 2015

Let It Snow - Dalam Derai Salju


Judul: Let It Snow - Dalam Derai Salju
Penulis: John Green, Lauren Myracle, Mauren Johnson
ISBN: 978-602-03-1151-7
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, 2014.

Blurb:
Badai salju pada malam Natal ternyata bisa mengubah kota kecil menjadi tempat yang romantis. 
Siapa kira jalan kaki di tengah cuaca dingin dan basah akibat kereta api mogok dapat berakhir dengan ciuman mesra dari kenalan baru yang menawan. Juga perjalanan menembus tumpukan salju menuju Waffle House ternyata dapat menimbulkan cinta pada teman lama. Dan cinta sejati ternyata bisa datang berkat giliran kerja pagi buta di Starbucks. 
Tiga kisah romantis karya tiga penulis bestseller ini – John Green, Maureen Johnson, dan Lauren Myracle – membuat kita percaya pada cinta sejati. 

Awalnya merasa Let It Snow bukan bacaan yang tepat untuk dibaca bulan Februari ini, namun saya sepertinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membuka segel novel ini dan mulai membacanya. Berisi 3 cerita dari 3 penulis berbeda yang rasanya punya nyawa berbeda, tapi berhasil dirangkum dengan menyenangkan. So, now, let's review it.

The Jubilee Express - Maureen Johnson

Malam natal kali ini merupakan malam natal yang buruk bagi Jubilee. Tidak bisa bertemu pacarnya - Noah, ditambah dengan kenyataan bahwa orangtuanya harus masuk penjara akibat kekacauan Flobie. Hal itu membuat Jubilee harus menemui kakek dan neneknya di Florida untuk merayakan natal bersama. Seakan belum reda hal-hal buruk yang terjadi padanya, di tengah perjalanan, kereta yang ia tumpangi tergelincir dan terjebak di kota kecil bersama cowok gondrong kenalan barunya - Jeb dan para cheerleaders berisik. Jubilee memutuskan untuk keluar dari kereta dan menghangatkan dirinya di Waffle House. Tidak disangka-sangka, di sanalah dia bertemu dengan Stuart dan cerita lain dalam hidupnya dimulai.

Maureen Johnson berhasil menuliskan kisah perjalanan baru Jubilee dengan cenderung simpel namun memiliki magnet tersendiri untuk membuat pembaca tetap bertahan menamatkan ceritanya. Bukan kisah romantis yang menggebu-gebu, hanya pertemuan dua orang yang sebelumnya belum saling mengenal. Pikiran-pikiran Jubilee bisa tersampaikan dengan baik dan dialog-dialog asik berhasil dihadirkan di cerita ini. Walau terasa terlalu lambat alur ceritanya, namun terasa terlalu cepat juga cinta akhirnya datang, petualang Jubilee di kota kecil yang baru ia kunjungi ini sangat menarik untuk dinikmati. Saya yang awalnya tidak mengira kalau 3 cerita dalam novel ini bakal berhubungan, sempat sebal kok di cerita pertama ini banyak tokoh yang dimunculkan, tapi nasibnya tidak diselesaikan dengan tuntas. Setelah tau tentang hal itu, saya malah mengancung jempol karena Maureen Johnson berhasil mengenalkan tokoh-tokoh berikutnya dengan apik.

Favorite line:
Lagi-lagi aku lumayan cerdas dengan menyebut "kami" dan bukan "hanya aku sendiri yang menyebrangi jalan tol enam jalur di tengah badai salju". Aku juga tidak berbohong. Jeb, semua Amber, dan semua Madison juga menyeberang setelah aku meninggalkan jejak di jalur itu. Saat berumur enam belas tahun, kau harus pintar-pintar mengedit percakapan. (halaman 74) 
"Aku tidak kenal Stuart mana pun," kataku. "Kecuali Stuart Little. Dan Kau.""Benar banget. Siapa sih yang menamai anak mereka Stuart?""Siapa yang menamai anak mereka Jubilee? Itu bahkan bukan nama. Benda juga buan. Memangnya apa sih jubilee itu?""Itu semacam perayaan, kan?" kata Stuart. "Kau ini seperti perayaan keliling yang meriah." (halaman 85)

A Cheertastic Christmas Miracle - John Green

Tiga orang sahabat - Tobin, JP, dan The Duke - menghabiskan malam natal dengan marathon nonton film James Bond. Sampai ketika Don-Keun, sahabat mereka yang lainnya mengabarkan kabar baik untuk Tobin dan JP, bahwa Waffle House penuh denga cheerleaders! Don-Keun mengundang mereka untuk datang, namun dengan syarat: mereka hanya bisa masuk jika mereka datang sebelum si kembar dan para mahasiswa. Di tengah badai salju, Tobin dan JP memutuskan untuk berangkat, dan The Duke yang awalnya enggan, akhirnya tergugah mengingat hash brown, makanan kesukaannya. Kisah gila mereka menerjang badai dan kenyataan yang akhirnya terbongkar di mulai dari sini.

Cerita kedua karangan John Green yang saya baca setelah Looking for Alaska dan saya kembali dibuatnya jatuh cinta. Cerita sahabat jadi cinta memang bukan hal baru lagi, tetapi hal-hal lainnya yang mendukung cerita ini membuat saya tersihir entah kenapa. Saya suka tokoh-tokoh yang John Green hadirkan, celetukan-celetukan mereka khas anak SMA dan berhasil bikin saya ketawa atau setidaknya senyum-senyum. Sama seperti di Looking for Alaska, nama tokohnya juga bukan nama asli, melainkan nama panggilan yang asal-usulnya lucu juga. Dari segi cerita, oke lah. Buat sebuah novellet, ini menarik, ketegangannya kerasa, romance-nya juga lumayan. Walau alasan Tobin dan JP buat sampai ke Waffle House agak kurang kerjaan dan gila, menghadang badai cuma buat ketemu para cheerleader itu. Tapi tenang, ada alasan yang ternyata lebih mendalamnya kok. Selain itu, menurut saya, John Green berhasil menyambungkan cerita pertama dan ceritanya ini dengan halus.

Favorite line:
"Eh, ini bukan salahmu. Ini salah Carla. Kau kan tadi sudah memutar setirnya. Carla saja yang tidak mendengarkan. Aku tahu aku seharusnya tidak mencintainya. Dia seperti yang lain, Tobin: begitu aku menyatakan cinta, dia meninggalkanku." (halaman 144)

The Patron Saint of Pigs - Lauren Myracle

Natal yang menyedihkan untuk Addie. Jeb, mantan pacar yang masih ia cintai tidak datang saat ia mengundangnya ke Starbucks. Addie yang patah hati dan menyesal memutuskan untuk mengubah penampilan rambutnya dan kembali menangisi hidupnya. Ditemani Dorrie dan Tegan - sahabatnya, Addie curhat habis-habisan. Namun sekedar curhat tidak menyelesaikan masalah. Addie tetap harus menjalani kehidupannya sendiri. Hari esok tiba, dan walau hari natal sudah berlalu, mungkin keajaibannya masih bisa dirasakan.

Lauren Myracle berhasil menutup semua cerita dalam novel ini dengan indah! Cerita favorite saya. Yang saya suka, tokoh dalam cerita ini mengalami perubahan yang meyakinkan. Kisahnya jadi bukan hanya sekedar kisah cinta, namun ada cerita tentang tanggung jawab dan pencarian jati diri juga. Penutupnya benar-benar bagus, porsi dari semua tokoh utama yang sudah dikenalkan dan diceritakan di awal kumpul semua di sini.

Favorite line:
Astaganaga, apa perasaan ini sudah ada sejak dulu? Ketenangan batin yang sma sekali tidak rumit, pelik, dan penuh dengan aku, aku, aku? Karena wow, rasanya luar biasa. Rasanya sungguh murni. (halaman 299)

Overall, saya sangat menikmati buku ini. Rasanya asik, bisa kembali menikmati suasana liburan bulan Desember. Terjemahannya juga enak dibaca, salut sama penerjemahnya yang berhasil bikin bahasanya jadi luwes banget. Meskipun ada hal-hal yang kurang, seperti makin ke belakang, makin ketara typo-nya, walau gak banyak. Atau tata letak tulisan 'dua' di bab kedua di cerita kedua yang terlalu ke atas, tapi saya tetap bertahan buat membulatkan bintangnya tetap 5, karena saya merasa bahagia banget abis baca novel ini. Serasa memang semua orang, walaupun dia figuran di cerita orang lain, dia bakal jadi tokoh utama di cerita hidupnya sendiri. Pas baca, saya bayangin novel ini bakal seru deh kalau difilmin, dan katanya memang mau difilmin kan? Gak sabar buat nonton!

Recommended for you who love romance book and want to go back to December (just like Taylor Swift's song).
5 of 5 stars.

Saturday, January 10, 2015

CallaSun



Judul: CallaSun
Penulis: Yuli Pritania
ISBN: 978-602-251-619-4
Penerbit: PT Grasindo
Editor: Anin Patrajuangga
Tebal: 242 halaman
Cetakan pertama, 2014.

Blurb:
IAN

Ada seorang wanita. Kiera. Kepada siapa aku menghabiskan nyaris separuh hidupku untuk jatuh cinta. Lalu ada wanita ini, yang datang tiba-tiba, merangsek masuk tanpa peringatan, mengguncang semuanya. Dan mendadak saja… rencana untuk mendapatkan wanita yang kucintai, tidak lagi menarik mata. 

CALLA
Sepuluh tahun awal kehidupanku berlalu tanpa mengenalnya, lima tahun kemudian habis untuk mengaguminya, lalu delapan tahun memendam rasa suka. Dan saat kemudian aku benar-benar berdiri di hadapannya, apa lagi yang bisa terjadi padaku selain jatuh cinta?
Tidak ada namanya bahagia saat melihat orang yang kau cintai bahagia. Itu hanya berlaku di dalam cerita. Aku… harus mendapatkannya.


Lagi-lagi saya dibuat jatuh cinta dengan cerita yang sebenarnya bukan cerita baru lagi. Benci jadi cinta. Bukan benci yang gimana-gimana sih, Ian cuma kesel aja kalau harus dijodoh-jodohkan. Namun Calla, gadis yang dijodohkan dengan Ian malah kebalikannya, dia senang setengah mati. Padahal mereka berdua sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Ya, ceritanya nanti bakal berjalan dari benci-bencian Ian ke Calla tapi lama-lama malah jadi suka. Karena saya bingung mau nge-review-nya gimana di blog, jadi saya copas aja dari review-an saya di goodreads ya (padahal di goodreads bilang mau review lengkap di blog, dasar blogger pemalas), tentunya ditambah beberapa catatan yang saya buat ketika membaca.

Sebenernya novel ini punya ide cerita yang gak baru. Tapi penulisnya berhasil bikin dialog-dialog antar tokohnya hidup, enak dibaca. Kerasa banget kayak lagi nonton k-drama gitu. Bahkan saya berpikir Calla - Ian ini hubungannya mirip sama tokoh utama k-drama You Who Came From The Star.

Spoiler alert!

Calla ini anaknya asik banget. Tipe cewek gak tau malu kalau lagi sama Ian. Kenyataan kalau dia udah belajar mencintai Ian dari kecil lewat foto-foto dan suka ngerayain ulang tahunnya Ian bikin saya senyum-senyum sendiri bayanginnya, hehe. Suka deh sama Calla.

Ian, loveable sih. Cuma saya lebih suka adiknya - Rayhan. Semoga aja nanti dia juga dibikinin cerita ya. Balik lagi ke Ian, di sini dari dia masih sebel sama Calla sampai jadi suka rasanya terlalu cepat. Cuma saya sendiri kemudian mikir, kayaknya kalau dibuat lama malah jadi agak membosankan. Jadi segini pas deh. Ian juara banget kalau ngomong, hehe! Tapi Calla juara juga balesin omongannya Ian.
"Kau tahu perbedaan pria dan wanita? Saat wanita memikirkan masa depannya bersama pria yang dia sukai, itu dianggap normal. Karena semua wanita memang memikirkan hal yang sama. Sukses, menikah dengan suami yang bisa dibanggakan, memiliki anak. Bahagia. Berbeda jika seorang prialah yang memikirkan masa depannya dengan seorang wanita yang dia sukai. Berarti pria itu benar-benar serius dengan perasaannya sehingga dia merasa harus segera meresmikan wanita itu menjadi miliknya. Karena tidak semua pria mau terikat. Benar, kan?" (halaman 155)
Sedikit yang saya sayangkan, deskripsi bentuk wajah Calla terlalu sering diulang-ulang sama pas adegan di taman, penggambaran tamannya malah kurang menurut saya. Mungkin penggambaran latar taman waktu itu harusnya lebih diperjelas, biar bayangin suasananya tambah semangat.

Ada beberapa typo, cuma ya sudahlah. Saya masih bisa menikmati ceritanya tanpa terganggu. Saya suka pokoknya. Bacaan ringan yang bikin gak pengin berhenti baca. Duh, emang kayaknya saya males bikin review, jadi segini dulu aja ya. Recommended buat yang suka cerita romance chessy tapi gak bosenin!
4 of 5 stars.

Wednesday, January 7, 2015

Ren's Little Corner Reading Challenge

Memutuskan untuk ikut beberapa reading challenge lagi karena simpel dan membantu perkembangan membaca saya untuk tahun ini. So, thank you Mbak Ren untuk reading challenge-nya!


Project Baca Buku Cetak



Jaman sekarang banyak yang pilih baca e-book karena kesimpelannya. Padahal saya pernah denger di radio, sebenernya baca e-book itu kalau terlalu sering, bahaya banget lho! Lalu, karena kecintaan saya baca dan pegang-pegang paperback, saya memutuskan untuk ikut dalam project ini. Asik juga sih baca bareng-bareng kan jadinya. Btw, yang bikin saya tertarik lagi juga karena banner project ini bagus banget, haha.

Langsung aja ya. Syarat-syaratnya sederhana, yaitu:

1. Menentukan target baca buku cetak dalam setahun. Saya sendiri menargetkan untuk membaca 30 buku cetak. Semoga tercapai.
2. Harus buku cetak dan gak boleh e-book (siap!)
3. Tidak perlu me-review.
4. Bikin post tentang project ini.

Project ini mendukung banget pokoknya!
Yang mau ikutan juga, klik aja gambar di atas, atau banner di sebelah kanan.

Satu lagi reading challenge dari Ren's Little Corner yang saya udah mupeng banget pengin ikutan dari pertengahan tahun lalu.

New Authors Reading Challenge 2015



Untuk challenge yang ini saya memilih level:

Easy: 1 - 15 buku

Dengan tambahan kategori khusus:
What's in a Name & Support Local Author



Ya, dikit dulu targetnya. Nanti dalam perjalanan semoga bisa naik level. Biar lebih lengkap dan jelas, silahkan klik gambar banner-nya, okay?

Sekian dulu. Semangat! Semangat!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...