"With peaks of joy and valleys of heartache, life is a roller coaster ride, the rise and fall of which defines our journey. It is both scary and exciting at the same time." - Sebastian Cole
Showing posts with label review buku. Show all posts
Showing posts with label review buku. Show all posts

Saturday, October 8, 2016

Pink Project - Retni SB



Pink Project
Penulis: Retni SB
Gramedia Pustaka Utama, Juli 2009. 

Blurb:   


Puti Ranin berang sekali ketika Sangga Lazuardi menyerangnya di ruang publik, di koran. Sangga mengejeknya sebagai katak dalam tempurung yang mencoba berceloteh tentang dunia! karena berani memberi penilaian terhadap lukisan tanpa pengetahuan yang memadai.

Bah! Dia memang awam dalam soal seni, seni lukis khususnya, tapi apakah itu berarti dia tidak boleh mengapresiasi sebuah karya? Dan baginya, lukisan Pring menyentuh kalbunya. Sangga Lazuardi sangat pongah. Kesombongan lelaki itu membuat Puti mati-matian membela dan mengagumi Pring, pelukis yang dicela Sangga.

Namun yang tidak dimengertinya... Sangga Lazuardi selalu muncul dalam setiap langkah hidupnya.... Bagai siluman, Sangga selalu muncul di mana pun dirinya berada. Apa yang diinginkan lelaki yang telah menghinanya habis-habisan itu?



Cinta tidak jarang dari rasa benci yang terlebih dahulu datang. Begitu kah yang terjadi pada Puti Ranin? Kesukaannya pada sebuah lukisan membuatnya diolok oleh seorang Sangga Lazuardy, pengamat lukisan. Sangga menganggap Puti memberi penilaian terhadap sebuah lukisan tanpa pengetahuan yang memadai. Puti memang bukan seorang pelukis, penggiat seni atau apapun yang berhubungan dengan lukisan, Puti hanya seorang pemilik toko buku yang kebetulan menikmati lukisan karya Pring itu. Dia menulis review terhadap lukisan karya Pring itu hanya sebagai sebuah karya yang indah yang dapat dinikmati orang awam seperti dirinya. Puti jadi kesal dan ingin bertemu langsung dengan Sangga, sebenarnya hanya untuk melihat bagaimana Sangga sebenarnya. 

Pertemuan itu terjadi di sebuah Galeri yang sedang mengadakan pameran lukisan. Di situ juga Puti bertemu Leo, seorang laki-laki yang sok kenal namun cukup membuat Puti nyaman. Sayangnya, Pring, pelukis kesukaannya tidak datang saat itu. Di lain sisi, Ina, sahabat Puti, yang sedang suntuk dengan hubungannya bersama tunangannya, Niko, justru bersikap tidak seperti dirinya di acara pameran itu. Setelah bertemu Sangga, hari Puti tidak sama lagi. Ina mulai bersikap aneh, Sangga mulai muncul dan mengganggu hari-harinya, dan dia mulai berhubungan dengan Pring, walau hanya lewat dunia maya. Ternyata di balik semua yang terjadi itu, ada sebuah projek yang dilakukan seseorang untuk seseorang yang melibatkan cinta dan orang-orang. 

“Mimpi-mimpi masa lalu, realitas kekinianku, kerinduan, pencarian, dan harapan-harapan hari esok bermain-main di kepalaku penuh warna. Membentuk sebuah lukisan imajiner yang tak mampu kuberi judul. Ah. Di titik ini, kusadari bahwa ternyata aku ini ‘belum penuh’. Aku masih memiliki banyak rongga dan serabut tanpa jalinan. Menunggu dipenuhi.” (halaman 116-117) 

Pink Project. Meski gak ngerti kenapa judulnya harus pink, mungkin karena pink mengibaratkan cinta, novel ini sangat sungguh bisa dinikmati. Pemilihan kata yang dipilih Retni SB di novel ini enak banget dibaca. Karena ini novel lama ya, jadi banyak kata yang nge-trend-nya di masa-masa itu juga. Tapi serius deh, ngalir banget, enak dibaca! Pemilihan lukisan sebagai pengait cerita juga menarik banget. Bukan dengan yang pelukis-pelukis banget, tapi ya sedikit-sedikit adalah belajar tentang dunia lukis dari novel ini. Cara menyampaikannya juga gak menggurui. Novel ini lebih banyak showing daripada telling, jadi ok. 

Dari segi cerita, ya lumayan sih. Bukan sesuatu yang ditawarkan. Tetap love-hate relationship gitu. Memang pada dasarnya, cerita di novel dibuat dengan segala kebetulannya lah ya, tapi di Pink Project ini, kebetulan-kebetulan yang terjadi itu berkesan halus banget, jadinya bisa dimaklumi gitu. Bukan yang tiba-tiba aja ada, tapi memang seperti sudah dipertimbangkan kapan dimunculkan. Suka deh kalau gak ada tokoh yang jahat. Walau sebal kalau ada hal-hal yang miss communication gitu, bikin gemas, untungnya di novel ini gak dibuat berlarut-larut. 

Tokoh-tokoh di dalamnya juga seperti benar-benar hidup. Ada interaksinya, gak cuma disebut-sebut aja. Suka sekali sama Imo, adik Puti. Tapi rasanya dia agak gak cocok buat anak 20 tahunan gitu ya? Enaknya dia jadi anak SMA aja gitu sih. Sayangnya untuk Puti, justru aku gak bisa bayangin dia gimana, maksudnya di novel ini kayak gak dijelaskan perawakannya, hanya sifatnya aja. Jadi menghayal bebas aja gimana kayaknya Puti itu. Pemilihan nama tiap tokohnya juga lucu. Indonesia banget tapi bukan nama yang biasa dipakai, kecuali Leo sama Ina dan Niko ya. Hahaha. 

Yang kurang kusuka itu, bagian menjelang ending-nya, bayanganku terhadap Sangga langsung otomatis berubah dan membuat aku jadi kurang suka sama Sangga. Aku juga berharapnya tokoh Leo lebih banyak lagi muncul gitu. Soalnya dia penghidup suasana. 

“Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Aku makin cantik kan?” Seperti robot aku mengangguk. “Mau tahu sebabnya?” Aku mengangguk lagi. “Karena aku bahagia. Aku sadar aku bahagia. Sejak dulu sebenarnya bahagia.” “Sebabnya…?” “Cinta. Apa lagi?” (halaman 206) 

Untuk cover, aku suka sih. Meski baca aja agak kenganggu dengan bunga yang di cover depan itu, soalnya itu ternyata gak nyatu kan sama cover pink belakangnya. Jadi pas dipegang saat baca, kayak ada yang ganjal. Tapi bunga di cover-nya bagus. Tulisan cover ‘Pink Project’ itu juga bagus. Dipikir-pikir kalau cover-nya cuma tulisan itu aja tanpa ada apa-apanya juga bagus ya. Hahaha. 


Oh iya, bunga di cover itu juga ada di tiap pergantian bab, nah itu yang justru ganggu. Soalnya kadang nutupin tulisan. 

Btw, karena ini metropop terbitan lama jadi gak ada pembatas bukunya atau karena aku belinya di obralan pembatasnya hilang (?) tapi aku belinya masih segel sih, jadi mungkin memang gak ada yang pembatas bukunya kali ya. 

Cerita: 3 dari 5 
Tokoh: 4 dari 5 
Pemilihan kata dan kenikmatan dibaca: 5 dari 5 
Cover dan packaging: 4 dari 5 

Total: 4 dari 5 bintang. YOHOOOO!

Thursday, October 6, 2016

Bambina - Angie Wiyaniputri


Bambina
Penulis: Angie Wiyaniputri
Cover: Marcel A. W.
Gramedia Pustaka Utama, November 2012.

Blurb:


Appetizer
Seperti salad di makanan pembuka Bambi, Mr. Kim sang pujaan hati bagaikan buah-buahan segar yang menggiurkan, sedangkan Leo, yang membuat Bambi melakukan the most embarrassing moment in her life, hanyalah selada hijau yang menjadi alas dasar piring salad. Bambi membenci Leo sang partner.

Soup
Leo selalu mengingatkan Bambi pada rasa HOT tabasco yang dimasukkan ke mangkuk sup tomat. Berada di samping Leo membuat Bambi selalu penuh dengan emosi. Berbeda sekali dengan Mr. Kim si pria romantis, kejutan-kejutan indah yang diberikannya seumpama wortel dan buncis yang mewarnai sup bening Bambi.

Main Course
Mr. Kim adalah kimchi jigae, sedangkan Leo adalah beef bourguignon. Bambi harus memilih salah satu menu untuk hidangan utamanya. Ia bukan wanita rakus. Tapi yang mana? Keduanya sangat enak!

Dessert
Pria itu bagaikan tiramisu di hidangan penutup Bambi. Selain mempunyai rasa manis dari cream mascarpone, tiramisu juga mempunyai rasa pahit dari kopi espresso. Tiramisu adalah kue kesukaan Bambi!



“Bambi melihat jam tangannya untuk ketiga kali. Pukul 17.33.”

Makanan selalu membawa sebuah kebahagiaan. Bambina Utama suka memasak. Untuk mewujudkan keinginannya menerbitkan buku resep, dia memerlukan seorang fotografer handal untuk memotret makanan yang ia masak. Hal itu mempertemukannya dengan Leo yang sudah menyebalkan sejak awal. Di lain sisi, Bambi menyimpan perasaannya pada Mr. Kim, pemilik restoran pasta yang gemar ia kunjungi. Leo si bule Paris vs. Mr. Kim si orang Korea. Siapa yang Bambi jadikan tempat hatinya berpijak?

Leo selalu menyebalkan, blak-blakan, seenaknya, dan sering sekali membuat Bambi sebal bahkan sejak pertama kali mereka berkenalan. Berbeda jauh dengan Mr. Kim yang sangat sopan, penyayang, dan selalu menghargai Bambi. Dibalut dengan segala macam masakan Bambi, novel ini mengajak kita mengetahui siapa yang Bambi pilih..

YAAA. Bingung gimana lagi mau ceritaiinnya. Ceritanya memang seperti itu saja. Jujur sejujurnya, aku gak suka novel ini. Terlalu banyak hal yang ganjal dan tiba-tiba dan menyebalkan. Contohnya, adegan di buka dengan Bambi yang nunggu Leo di restoran Mr. Kim. Karena si Leo lama gak datang dan pas itu juga mereka belum kenal muka, Bambi akhirnya memutuskan diri untuk teriak ‘siapa di sini yang namanya Leo?’ YAAAA. Terus di malu. Abis itu dia marah sama Leo karena bikin dia malu. Nah, masalahnya oke sih kalau  dia marah sama Leo karena Leo lama datang. Ini dia marah kerena Leo bikin dia malu. Padahal dia sendiri yang bikin diri sendirinya malu. Lol Bambi lol.

Novel ini memakai sudut pandang orang ketiga, jadi jangan heran kalau nama Bambi banyak sekali disebut. Bambi Bambi Bambi. Di awal rasanya kayak lagi baca cerpen di majalah BOBO.

Contohnya:
“Huh kesal! Lama banget sih si Leo itu! Sudah ditunggu berjam-jam, tidak muncul juga batang hidungnya! Tidak professional banget sih  dia! Batin Bambi menggerutu.

“Aku tidak bisa bertemu lagi dengan Mr. Kim, pikirnya sedih.

Terus juga, hubungan antar tokohnya terlalu cepat dekat. Belum apa-apa eh sudah suka. Baru ketemu sudah curhat aja. Baru kenal, bahkan ngobrol aja enggak, sudah diundang ke nikahan.. ke Korea lagi! Dan mau lagi! Ke Korea, menghadiri pernikahan seseorang yang baru dikenal gitu lho. Duitnya ya sayang.

Si Bambi ceritanya sudah 23 tahun, tapi rasanya kayak baru lulus SMA deh. Anehnya lagi, rasanya dia kayak orang kaya, tinggal di apartemen besar dan bagus, tapi dia bilang mau bikin buku resep ini buat ngumpulin uang untuk kuliah S2 di Paris. Yaa, harusnya kalau dia lagi ngumpulin duit setidaknya hemat dengan gak tinggal di apartemen atau gimana. Terus harusnya kalau lagi ngumpulin uang, gak gitu aja nerima ajakan orang ke Korea kan?

Di novel ini, Jepang dibilang negara di Asia Tenggara (halaman 70), padahal setahuku Jepang bukan ASEAN (?) di novel ini juga, banyak banget bahasa selain Indonesia yang dipakai. Jadi kayak wow hebat sekali tokoh-tokohnya bisa banyak bahasa hahaha.

Selain itu, masih banyak yang aku herankan sampai aku tekuk-tekuk halamannya.


Ini percakapan Bambi dan Leo lewat sms. Bambi bilang 'ok' langsung, tapi dia menggerutu di belakang. Padahal Bambi bukan orang yang sok baik kalau yang aku baca (?) Jadi harusnya, kalau gak setuju ya jangan langsung bilang ok dong.


Lalu, ada lagi, percakapan Bambi sama Mr. Kim ketika mereka masak. Bambi yang malu dipuji tapi terus nyerocos cerita dia ini itu seakan kan malah jadi pengen tambah dipuji (?)


Banyak sekali yang bikin aku sedih dari novel ini ya. Sedihnya bukan karena terharu, tapi kenapa kok kenapa.. semua tokoh di novel ini terlalu terburu-buru tapi terlalu berlarut-larut juga (masa pemotretan makanan aja harus lama sekali dan Bambi setuju padahal bukankah lebih cepat lebih baik), terlalu menganggu, terlalu ada di mana-mana, dan terlalu tiba-tiba, dan terlalu berlebihan (masa sakit panas aja manja banget ya ampun). Padahal dari konsep, menyatukan cerita cinta dengan makanan itu sudah menarik banget, tapi di novel ini justru fokus makanannya jadi hilang karena saat baca pengen cepat selesai aja, jadi banyak narasi yang dipercepat bacanya. Terlalu lelah. Seakan belum puas bikin yang baca menghela napas, di bagian menjelang ending, eh dibuat cerita baru dan hilang begitu aja. Abis hilang, eh datang lagi begitu aja.

Aku menyelesaikan baca novel ini dengan harapan akan ada bagian yang bisa kusukai, tapi sampai akhir, yang kusuka dari novel ini hanya well, ada resep di bagian akhir novel dan packaging novelnya yang bagus. Tapi rasanya kok menipu ya huhuhu. Aku sampai bingung gimana harus nulisnya. Terlalu banyak yang kupertanyakan, tapi rasanya kalau ditulis semua takut kayak haters eh.

Alasan aku nulis ini sebenarnya ingin menjabarkan yang aku tanyakan, tapi justru malah bingung sendiri. Semoga di novel selanjutnya, bisa lebih baik lagi ya. Semangat!

“God told me that love is patience. Aku akan sabar, sabar sampai secercah harapan itu menjadi kenyataan.” (halaman 198)   

Sayang, hanya 1 bintang untuk novel ini.

Wednesday, September 28, 2016

Milea: Suara dari Dilan Mini Review + Curhat Colongan


Milea: Suara dari Dilan
Penulis: Pidi Baiq
Editor: Andika Budiman
Pastel Books, 2016.

"Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu."


1.
Sejujurnya, senang sekali buku yang ini akhirnya terbit juga. Menjawab rasa ketidakpuasan dari buku yang kedua (i still like it tho), buku ketiga ini apaya.. lebih dewasa dan memang penuh dengan jawaban.

Merangkum kejadian dari 2 buku sebelumnya yang sudah diceritakan dari sudut pandang Milea, kini Dilan ingin bercerita juga dan membagi kisah dari sudut pandangnya juga.

2.
Mungkin kesannya jadi bias banget, karena aku memang fan-nya Dilan hehehe! Tapi memang buku ini dewasa banget. Dilan berusaha meyakinkan pembaca kalau apa yang dia lakukan dahulu itu memang ya perlu dimaklumkan karena dia masih remaja. Apa yang dia lakukan dahulu, dia jadikan pelajaran bahwa gak semua cerita berakhir manis gitu (?)

Baca buku yang ketiga ini tanpa baca kedua buku sebelumnya, dijamin kamu bakal bingung. Karena banyak cerita yang di sini hanya ditulis 'seperti yang sudah Milea ceritakan dalam bukunya' gitu.

3.
Gaya tulisannya sih masih Pidi Baiq banget. Dan oh ya, di sini keluar juga nama-nama tokoh baru! Hahahaha. Jadi memang benar ya, perspektif orang berbeda-beda.

Sekali lagi, aku jatuh cinta dengan Dilan. Tapi jatuh cinta yang berbeda. Kalau dulu, aku seperti ingin punya pacar kayak Dilan. Sekarang, masih sih, tapi aku jatuh cinta karena Dilan bikin aku sadar kalau masa muda itu masa yang indah dan gak boleh disia-siakan beserta alasan-alasan lainnya.

4.
Labelnya sih 'novel remaja' dan aku juga pernah baca review orang lain tentang cerita Dilan ini teenlit banget. Memang sih, ini cerita tentang cintanya anak SMA. Tapi menurutku, di buku yang ketiga ini dibuktikan, novel remaja penuh cinta tapi isinya dewasa. Soalnya ini diceritakan dari sudut pandang orang dewasa yang menceritakan masa remajanya. Tentu dia punya penyesalan dan pemakluman.

Baca kisah Dilan dan Milea ini bikin adem.

Dan aku bersyukur Pidi Baiq katanya gak mau ngangkat cerita ini jadi film. Soalnya, walaupun katanya ini kisah nyata (?) aku cuma mau kisah Dilan ada dalam imajinasiku aja, gak mau divisualisasikan, takut kecewa lol.

5.
Aku suka puisi-puisi yang ada di buku ini. Mungkinkah ada kesempatan diterbitkan buku puisi karya Dilan dan Milea suatu hari nanti?


"Terima kasih, Lia. Terima kasih dulu kamu pernah mau."

Tuesday, September 27, 2016

(So-Called) Review: Memoir of a (So-Called) Mom


Memoir of a (So-Called) Mom
Penulis: Poppy D. Chusfani
Editor: Helen Menta Dumaris
Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2013.

Blurb:

Siapa yang berhak menentukan pilihan hidup kita?

Amelia, yang mendadak jadi ibu rumah tangga, berkeras mengatur hidupnya sendiri. Dia tidak mau orang lain ikut campur. Dengan bangga Amelia berkata lebih memilih cerdas ketimbang pintar. Namun saat dia tidak merasa pintar dan tindakannya tidak menunjukkan kecerdasan, Amelia mulai meragukan pilihannya. Apakah selama ini prinsipnya salah? Atau dia hanya tidak mampu berdiri tegak saat cobaan menghantam?

--

Bercerita tentang Amel, seorang wanita yang memiliki keluarga agak rese (apa rese banget?). Bukan keluarga intinya sih yang rese, tapi lebih ke keluarga besarnya (uwak - kakak dari ibunya apalagi). Judulnya 'memoir' karena ini memang bercerita dari awal dia baru mau nikah sampai anaknya sudah nikah lagi. Tapi cuma dalam 147 halaman saja. Ceritanya sih lebih lama berpusat pas Amel mau nikah sama Amel hamil, terus ngurusin anak. 

Segala yang Amel lakukan dalam hidupnya selalu dikomen sama si uwaknya itu. Ya biasalah, pas belum nikah, ditanya kapan nikah. Sudah nikah, ditanya kapan punya anak, dll.

Amel menghadapi hidupnya dengan penuh komentar itu ya dengan menjadi dirinya sendiri. Dibumbui masalah-masalah hidup khas keluarga, novel ini sebenarnya enak banget buat dibaca. Oh iya, suaminya Amel namanya Baron ya.

Hmm. Intinya sih gitu doang. Seorang ibu dan istri dengan segala keputusan dan masalah keuangan keluarga dan keluarga uwaknya yang rese karena selalu ngomel, dan cenderung banding-bandingin Amel sama anak-anaknya.

Yang aneh, ini ceritanya ditulis 2013 dan saat itu ceritanya anaknya Amel -- Anika, sudah punya anak lagi. Tapi dari awal tuh kayak gak ada perbedaan jaman yang terlalu gitu.. padahal harusnya awal gitu berarti minimal tahun 80-an lah ya (?) tapi ceritanya kayak semuanya terjadi di tahun 2000-an.

Untungnya cuma 147 halaman dan cara nulisnya enak banget, bahasanya ngalir seperti lagi baca diary orang aja. Tapi kalau terlalu tebal mungkin jadi bosen karena ceritanya cuma tentang Amel. Tapi aku nikmatin sih bacanya. Rasanya beda dari novel metropop lain (?) gak tahu kenapa. Oh iya, suka juga dengan cover-nya. Lucu sekali.

3 of 5 stars.

Sunday, January 17, 2016

Awaiting You



Nadya Prayudhi
Stiletto Book, 2015.

Hilang! 
Sam, suami Amora, sang chief editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Di tengah kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian: anaknya bermasalah di sekolah, didekati Lody si brondong di kantornya, mendapat simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama, dan diteror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya. Semua itu membuat dirinya semakin frustrasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya. 
Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke laman Facebook Sam–yang membuat Amora semakin bertanya-tanya: 
Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya? 
Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora? 
Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?


Tanpa ada petunjuk atau hal-hal aneh terjadi sebelumnya, Sam tiba-tiba saja hilang. Awalnya dia hanya ijin ke Amora untuk melakukan perjalanan bisnis ke Tokyo, namun hingga kini tidak ada kabar darinya. Amora kelimpungan karenanya. Seakan penderitaannya belum habis, di kantor dia masih harus bertemu anak baru bernama Lody. Wajah Lody mengingatkan Amora pada seseorang yang ia pun tak yakin siapa. Bukan hanya itu, Gavin, sahabat Sam pun tiba-tiba memberi perhatian lebih ke padanya.

Kepusingan Amora mencari Sam masih harus diganggu dengan urusan anaknya yang bermasalah di sekolah serta masa lalu yang muncul kembali setelah sekian lama. Lalu, bagaimana Amora menghadapi semua masalah itu? Baca selengkapnya di Awaiting You.

Oke, pertama, saya mau berterima kasih dulu sama Stilleto Book yang sudah mengirimi buku ini sebagai hadiah kuis (dan kuisnya itu udah lama banget, maaaaaf). Ahahahaha, gak nyangka banget bisa menang. Btw, review ini harusnya terbit tahun 2015, tapi karena ada kendala, jadi ya, mohon dimaklumi.

Ceritanya asik diikuti kerena mengandung misteri keberadaan Sam. Jadi pembaca diajak penulis untuk mengikuti keseharian Amora semenjak Sam hilang beserta masalah-masalahnya. Unik sih jalan ceritanya, tentang suami yang menghilang. Walau gak gentle banget gitu kerasanya main hilang aja ninggalin anak dan istri. Tapi pasti semua punya alasan ya, begitu juga Sam. Nah, untuk tahu apa alasan Sam, ya kita harus baca dulu dong sampai akhir.

Ada beberapa hal yang janggal menurut saya sih di novelnya, di awal kan ada tuh percakapan suster (penjaga anaknya Amora) dengan si Amora.

“Halo, Ibu? Bu, ini Bilal dan Sabin berantem terus, nih. Suster jadi pusing. Udah Suster pisahin tetap aja lima menit kemudian berantem lagi.”

Agak aneh aja gitu kalau si suster manggil dirinya sendiri ‘suster’, gimana ya, biasanya kan pakai kata ganti ‘saya’ gitu. Hehe, pendapat pribadi aja sih. Terus ada juga adegan dimana Bilal kan katanya lagi diskors, eh, kok, terus sama Amora malah mau dianterin ke sekolah lagi? Itu sayanya aja yang gak fokus pas baca atau gimana ya.

Selain itu, yang saya kurang suka, di novel ini kata ganti ‘saya’ atau ‘aku’ atau ‘gue’-nya gak dipakai konstan. Kadang ada dalam satu kalimat itu pakai saya dan aku sekaligus. Iya sih, dipakainya pas percakapan, cuma kan akan lebih baik kalau konstan aja pemakaiannya biar lebih rapi.

Buat yang kurang suka bahasa campur-campur, di novel ini banyak banget bahasa campur Inggris-Indonesia nya. Saya sih suka-suka aja, karena sekalian belajar bahasa Inggris. Tapi yang membingungkan, kok pas di Singapura dan Amora sedang berbicara dengan chef editor di sana, dia pakainya campuran juga, si ibu chef editor-nya campuran juga bahasa Inggris-Indonesia. Nah, kalau yang kayak gini kan, mungkin lebih bagus kalau gak dibahasa Inggris-kan semua, ya diterjemahkan ke bahasa Indonesia semua gitu, lalu dijelaskan dengan narasi kalau ngomongnya lagi pakai bahasa Inggris. Hehe.

Karena Amora ini udah punya anak, saya berharapnya bakal banyak adegan anak-ibu yang mengharukan atau heart warming gitu, tapi ternyata sedikit. Kerasanya kebanyakan si anak ini sering dipinggirkan aja sama Amora. Padahal kalau anaknya diikutkan dalam kegundahan mencari Sam lebih banyak, kayaknya bakal lebih kerasa galaunya. Ini malah si Amora kabur nyari Sam ke Hong Kong tanpa pamit sama anak-anak dan gak diceritain dia nelpon anaknya atau gimana gitu, saya sedih deh kalau jadi anaknya. Terus juga, menurut saya, untuk ukuran kehilangan suami, Amora ini lambat. Membiarkan clue-clue yang dia tahu mengendap berbulan-bulan. Padahal harusnya kalau nemu clue, langsung samber tanya yang bersangkutan aja gimana, biar Sam cepet ketemu. Alurnya dibuat cepet, tiba-tiba udah dua bulan kemudian, mungkin maksudnya mau menggambarkan kalau Sam ini perginya lama gitu, cuma malah ngebuat kayak si Amora ini kurang gesit nyari suaminya sampai dia menyerah.

Terlalu banyak laki-laki yang berlalu lalang nih, jadi gak fokus cerita sweet-nya mau sama siapa. Ahahaha. Kadang juga fisik laki-lakinya itu diceritainnya telat. Saya baru tahu Gavin itu bule di hampir pertengahan cerita. Terus juga Beamy, awalnya saya kira cewek lho, hahaha.

Yang terakhir.. hmm.. nama lengkapnya Lody.. hmm.. kok gitu ya.. hahaha.. bikin ngakak.. lalu.. hmm.. endingnya.. agak gimana.. protes-able banget.. tapi.. hmm.. saya malah suka ending begitu deh.. gak mainstream jadinya.. hmm.. (ketularan Pak Bambang).

Saya gak bisa bilang kalau saya gak suka novel ini, misteri dimana Sam berhasil bikin saya mau baca sampai akhir. Memang ada beberapa hal yang mengganjal saat baca, cuma itu bisa diperbaiki deh dicetakan berikutnya. Akhir kata, saya mau bilang: Semangat, Amora!

3 of 5 stars.



Friday, January 15, 2016

Critical Eleven


Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 halaman


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. 
In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan. 
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya. 
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya. 

Tanya Baskoro (Anya) bertemu Aldebaran Risjad (Ale) dalam pesawat yang mengantarnya ke Sydney. Berawal dari kejadian yang sebenarnya membuat Anya merasa awkward, obrolan itu berlanjut menjadi saling ketertarikan antara keduanya. Setelah pertemuan mereka di pesawat tersebut, mereka sama-sama tahu hatinya saling tertinggal satu sama lain. Namun, baru setelah sebulan sejak pertemuan itu Ale baru kembali menghubungi Anya. Kemudian mereka mulai pacaran, dan setelah setahun memutuskan untuk menikah dan menjalankan kehidupan pernikahan jarak jauh. Ale yang merupakan seorang ‘tukang minyak’ harus membagi waktunya 5/5 (5 minggu di rig, 5 minggu di Jakarta) dan Anya seorang konsultan di Jakarta. Cerita yang sebenarnya baru mulai di sini, tentang kehilangan, manisnya masa lalu, dan kesempatan kedua.

YAAAAAH. Akhirnya kebaca juga ini buku.

Cerita yang pertama kali muncul sebagai cerpen di kumpulan cerpen metropop berjudul “Autumn Once More” ini sudah berhasil memikat hati saya jauh sebelum ada kabar bahwa kemudian cerita tersebut akan dinovelkan. Sejujurnya, gak pernah menyangka sama sekali ceritanya bakal jadi kayak ‘gini’. Well, it turn out good. Bahkan menurut saya, ini adalah novel terbaik Ika Natassa (I read all her works expect Underground and Divortiare but I already watch the short-movie-adaption and I read Twitvortiare, so.. hehe). Ini novel paling dewasa, paling ‘alim’, paling menyentuh, tapi dari semua label paling itu, tidak menghilangkan ‘ke-witty-an’ dalam tulisan Ika Natassa.

Namun, sebagai pembaca tentunya kadang susah aja buat puas. Saya suka banget sama cerita novel ini, tapi saya butuh percakapan dari Ale dan Anya lebih banyak. (I know the reason why they are not much talking tho, but still..) Lalu, alur cerita yang maju-mundur, hmm kadang saya gemes sendiri karena waktu ada bagian suatu kejadian dan udah penasaran banget gimana kelanjutannya, Anya atau Ale lalu malah kembali ke masa lalu dengan cerita bagaimana mereka dulu. Tapi justru di sini serunya ya, jadi kita para pembaca dibuat sebagai teman dan diceritain banyak banget gitu, macem dicurhatin mereka. Dan setelah saya pikir-pikir, emang manusia tuh suka gampang banget keinget masa lalu dan mau gak mau di otaknya keputer sendiri kejadian masa lalu kan, so this book is so ‘human’.

I love the concept and the story.
I love the cover.
I love Ika Natassa’s writing.
I love how Ika Natassa put Harris and Keara as a special guest in this book. And oh, there is Alex and Beno making cameo too I guess, hehe.
I love the ‘travel is….’ part.
I love the way Ika Natassa describe Jakarta and all the people in this city.

I just love this book. 4 of 5 stars!

“For many of us, Jakarta is not a city. It’s a book full of stories. Termasuk bagiku dan Ale. Terlalu banyak cerita kami berdua yang tersimpan di jengkal-jengkal kota ini.”

Saturday, October 24, 2015

Baca Bareng Minjul: Re-Write Mini Review

Re-Write

"Tidak ada kenangan yang bisa kautulis ulang. Tapi mimpi, bisa kaususun kembali."



Emma Grace
Gramedia Pustaka Utama, 2015.

Novel yang bercerita tentang bagaiman cara melupakan masa lalu dan move on untuk kehidupan yang baru dikemas sangat apik oleh Mbak Emma Grace. Salut! 294 halaman yang dirangkum dalam 22 bab plus epilog lumayan bikin emosi ikut naik dan turun saat membacanya. Serta, tentu saja novel ini berhasil membuat rasa penasaran karena rahasia-rahasia yang ditawarkan para tokoh utama.

Bercerita tentang Beth Samodro, cewek 20 tahun yang kuliah di Sydney menemani kakaknya, Sheila. Beth begitu jatuh cinta para Jared Tanudjaja akibat perhatian yang suatu hari dalam di masa SMA yang Jared berikan. Karena rasa cinta yang teramat sangat dan rasa ingin membalas kebaikan Jared masa SMA, Beth mau mengantikan posisi kerja Jared di FashionSheet selama 1 bulan. Jared sering memanfaatkan kesempatan seperti ini karena dia tahu, Beth tidak akan pernah bisa berkata ‘tidak’ atas permintaannya. Di FashionSheet lah kemudian Beth bertemu Derick Bhrasongko. Cowok yang menurut Beth sangat dingin. Rick tidak suka pada orang Indonesia dan benci sekali cewek lemah yang selalu saja mau bilang ‘iya’ karena cinta. Selain kehidupan cintanya, Beth memiliki rahasia yang begitu sakit untuk dia bagi kepada orang lain.

Di awal, rasanya gemes banget sama Beth karena dia nyebelin dan terlalu kemakan cinta banget. Namun sampai di akhir, Beth menunjukan perubahan. Dan aku salut sama Mbak Emma, karena perubahan Beth tidak dijelaskan terlalu ekstrem. Perlahan tapi yang membaca ikut tahu kalau si Beth ini nyatanya berubah.  
Selain tokoh-tokoh utama di atas, ada tokoh pendukung lain seperti Sheila (kakaknya Beth), Stephen, Isla, Judith, Ms. Colleen, dan Gwen. Selain Sheila, tokoh pendukung yang lain seperti kurang porsi di novel ini. Apalagi Gwen dan Ms. Colleen, yang sebenarnya mungkin bisa dibuat lebih ‘banyak omong’ lagi.

Judul yang diambil, “Re-Write”, begitu pas menggambarkan suasana novel secara keseluruhan. Pernah baca di salah satu blog yang mewawancara Mbak Emma, katanya rencana awal novel ini akan diberi judul “The Bucket List”. Untung saja pada akhirnya diganti “Re-Write” ya, karena memang judul ini yang paling cocok, hehe. Layout dalam novelnya juga oke. Begitu simple tanpa ada gambar-gambar khusus, namun justru malah terlihat lebih rapi.

Pemilihan kata yang dipilih Mbak Emma enak banget buat dibaca. Mendukung cerita yang begitu ngalir dan minim typo, bikin novel “Re-Write” ini bisa kita nikmati tanpa harus pusing. Ada beberapa typo yang sebenernya gak terlalu mengganggu.

1. Halaman 33. Ketika Jared lagi ngomong berdua sama Beth, tiba-tiba ada kalimat yang menuliskan Rick yang menghembuskan napas.

2 Halaman 104. Sebenarnya mungkin bukan typo, tapi agak membingungkan. Waktu Rick lagi marah sama Beth dia bilang, “Jawab pertanyaanku!”. Lalu Beth jawab, “kupikir…” dilanjutkan dengan “kupikir jawabanmu itu artinya tidak.” Bingung aja, entah itu harusnya diucapin sama Rick atau kalau diucapin Beth, bukankah harusnya “kupikir jawabanku itu artinya tidak” ya? Hehhehehe.

3. Halaman 180. Ada kata “sa_mar” yang harusnya “samar”.

4. Halaman 236. Font keterangan yang bukan bagian dari surat (di bagian itu ada suratnya), tapi font-nya ikut sama seperti font surat.

Mengenai cerita, menurutku sudah pas. Di awal konflik mulai muncul, di pertengahan cerita satu rahasia mulai terbuka, tapi Mbak Emma gak membiarkan semua rahasia akhirnya terbuka. Namun, clue-clue tetap diberikan biar nebak-nebaknya jadi asik. Alurnya bergerak lumayan cepat, jadi walau dibuat nebak-nebak, tapi gak sampai bikin bosen karena isinya nebak-nebak mulu. Intinya, Mbak Emma pintar menempatkan inti-inti rahasia dimana harus dibongkar.

Pada awalnya, latar Sydney yang digambarkan di novel ini kurang berasa. Namun mendekati akhir, akhrinya kerasa juga. Jadi tahu tentang perayaan natal di Sydney itu salah satunya kayak apa. Untuk rasa ‘young-adult’-nya entah kenapa sampai akhir cerita pun kurang kerasa. Beth dan Rick memang digambarkan berusia 20 tahunan. Dan sikap Beth yang terlalu cinta pun menggambarkan bahwa Beth masih dewasa muda. Tapi ya gak tahu kenapa juga, mungkin karena latar cerita awalnya banyak digambarkan di lingkup pekerjaan.

Oiya, beberapa hal lagi yang menyenangkan ketika baca novel ini adalah banyak nama makanan yang bikin penasaran, judul film yang bisa jadi rekomendasi buat ditonton, dan ada beberapa lagu juga, apalagi lagu Canon in D Mayor itu.

And… one more thing that surprise me! Penasaran dengan maksud dari penempatan lagu Ed Sheeran yang di awal, ternyata terjawab di bagian akhir.

Novel ringan dengan pesan yang cukup mendalam. I definitely will read "Pay it Forward" and another Emma Grace's novels in the future. Thanks, Mbak Emma!

Anyway, I will give my thanks to Beth and Rick too! The best thing about reading book for me is like I got more stories to learn from someone else’s life.

“Kau yang memberitahuku supaya tidak melakukan hal yang tidak ingin kulakukan hanya karena orang lain. Maksudku, itu pasti berlaku sama dengan pendirian, bukan? Tidak mengiyakan pendapat orang yang tidak kusetujui opininya, hanya karena aku sungkan?” 

“Waktu bukanlah sesuatu yang absolut. Dan setiap orang memiliki jam digital mereka masing-masing.” 

“Ketika kau peduli pada seseorang, terluka adalah syaratnya. Terluka merupakan satu bagian yang akan kauterima dan pasti kauterima.”

 PS: Terima kasih banyak untuk Mas Ijul (@fiksimetropop) dan Mbak Emma (@emmagrac3) yang sudah memberi kesempatan untuk ikut dalam kegiatan #BBM_ReWrite ini. Thanks a lot! Untuk Mbak Titin (@agustine_w) juga terima kasih untuk baca bareng seminggu ini. Semoga bisa ketemu suatu saat!

Thursday, June 25, 2015

Singapore Begins


Judul: Singapore Begins
Penulis: Agata Barbara
Penerbit: Ice Cube Publisher
Cetakan pertama, April 2015.


Blurb:
“Tepparapol Goptanisagorn.” 
“Hah?” ujar Kanna spontan tanpa dia sadari. 
“Namaku. Tepparapol Goptanisagorn,” sang cowok mengulangi, kali ini dengan sedikit lebih lambat. 
Kanna mengerjap. Tep… teppa… Gopta… “Apa?” 
Kanna tahu dia bukan anak kesayangan Mama-Papa, tapi dibuang ke Singapura tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Namun apa boleh buat, hasil tes kepribadiannya yang minus membuat keputusan orangtuanya tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah Kanna akan tinggal sekarang, di sebuah rumah kos bersama empat orang lainnya dari empat negara berbeda pula. Baru saja menginjakkan kaki di sana, Kanna sudah disambut oleh ibu kos superheboh. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis bule yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Oh, dan suara tangisan siapa itu dari lantai dua? Cuma setahun, sih, tapi bagaimana cara Kanna bertahan kalau menyebutkan nama salah satu housemate-nya saja sudah begitu sulit?

Ini pertama kalinya saya baca YARN dan kayaknya saya membuat pilihan yang tepat dengan memilih Singapore Begins sebagai pengenalan untuk seri YARN ini. Yey!


Berisikan cerita tentang moral dan persahabatan yang kental, Singapore Begins membuat kita berkenalan dengan 5 orang sahabat beda negara yang disatukan dalam satu rumah kost di Singapura. Dengan kepribadian masing-masing, 2 cewek 3 cowok yang tinggal bersama ini berhasil belajar sesuatu dari ‘pengasingan’ mereka di Singapura.

Meet the gang:

1. Kanna Hartono, cewek tomboy asal Indonesia. Sering dikira orang Jepang karena namanya. Dikirim ke Singapura oleh orang tuanya untuk belajar dan mencari teman, karena tes psikologinya mengatakan kalau kemampuan mengekspresikan dirinya kurang. Kanna terlalu tertutup, dingin, dan mandiri. Namun Kanna merasa alasan itu hanya untuk memperkuat tindakan orangtuanya untuk membuangnya jauh dari rumah.
2. Sally Christina Wilfred, bule Amerika. Cantik, tinggi, putih, bermata hijau, dan berisik. Tipikal cherish-girl yang menyenangkan. Kadang-kadang (bahkan lebih sering) terlalu drama, namun selalu ceria kayak hidupnya gak banyak masalah.
3. Kim Joon Hee, cowok tampan Korea dengan mata hitam bulat, hidung mancung, dan rambut hitam kecoklatan. Joon Hee memiliki orangtua yang posesif, namun pasti ada alasan tersendiri kenapa dia memutuskan pindah ke Singapura. 
4. Paresh Abharana, cowok iseng dan kelebihan energi yang berasal dari India. Mungkin kalau di sekolah-sekolah gitu dia tipikal badut kelas dengan segala ide jailnya.
5. Tepparapol Goptanisagorn, atau disingkat G. Cowok tinggi dari Thailand dengan segala ke-terlalu-berlebihan-dan-heboh-nya.

Dan Jun, beserta tokoh-tokoh lain yang turut menyemarakan cerita.

Isi novelnya fun dan kekinian deh, hahaha. Bakal nemu nama film, buku, bahkan drama korea yang lagi digandrungi banget untuk jaman sekarang. Dan kayaknya udah lama deh gak baca cerita persahabatan kayak gini. Meski awal-awalnya mikir mungkin kalau tokoh-tokohnya dijadiin anak SMA bakal lebih asik. Tapi terus, gak jadi deh, jadi anak kuliahan juga udah asik. Well, awalnya juga agak bingung ini ceritanya mau tentang apa ya garis besarnya, apakah pengasingan dari orang tua, apa pembuktian pembelajaran masa lalu atau gimana, eh ternyata kayaknya ini bergaris besar tentang cyber-bullying yang baru ada di pertengahan cerita. Tapi tentunya juga dibalut dengan kisah-kisah masa lalu para tokoh yang menjadikan mereka akhirnya tinggal dalam satu rumah di Singapura. Dan buat yang suka romance, jangan khawatir, novel ini walaupun YARN, tetep ada kisah cintanya kok walau sedikit (tapi porsinya sangat cukup) (cukup bikin penasaran).

Tentang cerita dengan tokoh yang berbeda kewarganegaraan, suka sih penulis menghadirkan 5 tokoh (bahkan 6 atau 7 malah) dari negara berbeda dan kita juga sempet dikasih adegan culture-shock. Terus suka juga kerena penulis sempet-sempet menyelip kebiasaan dari negara-negara itu, jadi bisa nambah pengetahuan. Nah, masalah tokoh, menurut saya si Kanna ini terlalu pinter dan tahu segalanya (lha) (bilang aja iri) hahaha. Jadi kurang suka Kanna, tapi I love Sally dan Jun! Sayang Jun kurang banyak porsinya. Juga, cerita di novel terlalu berpusat sama hubungan Kanna – Sally dan Kanna – Joon Hee. Maksudnya, novel ini bakal lebih seru kalau adegan Kanna – G atau Kanna – Paresh juga sebanyak Sally dan Joon Hee. Jadi kayak pembaca mengenal G dan Paresh cuma dari narasi Kanna aja, gak terlalu banyak percakapan antara mereka. Bahkan pas mengetahui masa lalu aja, bagian Sally dan Joon Hee ada percakapannya, sedangkan G dan Paresh Cuma dinarasikan aja. Tapi gak apa-apa, tetep suka cerita persahabatan kayak gini.

Suka juga sama ending-nya. Suka sama selipan-selipan moral yang tetep menyenangkan saat dibaca. Suka sama gaya menulisnya dan kayaknya ini kebanyakan dari pengalaman penulisnya ya? Suka deh pokoknya. OH, iya! Dan suka juga sama cover-nya.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal (halah), ngompres orang demam itu pakai air es atau air hangat sih? Di novel ini pakai air es, sempet googling katanya pakai air hangat, tapi terus nanya ke seseorang jawabannya pakai air es juga. Wah, harus nanya dr. Oz nih!

I’m looking forward to read another YARN-novels!

3,5 of 5 stars.
“Dan orang yang sulit untuk memercayai siapa pun.. akan memercayai sahabat-sahabatnya seumur hidup.” - Kanna 

Thursday, June 18, 2015

Kismet


Judul: Kismet
Penulis: Nina Addison
ISBN: 978-602-03-1487-7
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Dini Novita Sari & Harriska Adiati
Tebal: 296 halaman
Cetakan pertama, 2015.

Blurb:
kismet//takdir//destiny. Kata yang melibatkan semacam rahasia kosmik, yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang, menggiringnya ke tempat ia seharusnya berada. 
Konsep itu menggelikan bagi Alisya.  
Tetapi ketika di tengah hiruk pikuk New York City ia bertemu dengan Cia, perempuan yang seketika menjadi sahabatnya, Alisya bertanya apakah takdir sedang bekerja? 
Lalu muncul Raka, satu-satunya cowok yang bisa membuat Alisya jatuh cinta. Lelaki yang, lagi-lagi, dibawa takdir masuk ke hidupnya. Sayangnya, takdir yang satu ini berpotensi menghancurkan persahabatannya dengan Cia. Jadi, mana yang harus ia pilih? 
Orang bilang persahabatan itu kekal, untuk seumur hidup. Namun, bukankah cinta sejati juga demikian?

Kismet atau takdir membawa Alisya pergi ke New York untuk menggejar cita-cita dan passion-nya. Lagi-lagi karena takdir, Alisya yang memang sedang bingung mencari apartemen murah untuk ditinggalinya bertemu dengan Cia, seorang gadis pemberani yang menolongnya dari gangguan laki-laki nakal dan kemudian bersedia berbagi tempat tinggal. Long story short, mereka berdua kemudian menjadi sahabat. Meski agak bermasalah di awal, Cia tahu bahwa Alisya punya banyak kesamaan dengannya. Cia lah yang memperkenalkan teori kismet kepada Alisya, yang sebenarnya dia anggap agak tidak masuk akal. Sama-sama orang Indonesia, sama-sama kabur dari keluarga, lalu tidak disangka-sangka mempunyai tanggal lahir yang hanya beda satu hari. Atas usul aneh Cia, mereka kemudian mempunyai tradisi untuk merayakan ulang tahun masing-masing dengan cara berbuat suatu kebaikan. Lewat tradisi itu pula lah Alisya kemudian bertemu dengan Mr. Gajah. Dalang yang membuat Alisya harus memilih, sahabat atau cinta.

Hubungan Alisya dan Mr. Gajah terbilang cukup singkat. Berawal dari Alisya yang meminta Mr. Gajah menceritakan masalahnya (untuk memenuhi tradisi kebaikan di hari ulang tahun Alisya). Mr. Gajah yang sama-sama keturunan orang Indonesia pun terbujuk dan mulai menceritakan masalah yang menimpa adik dan keluarganya. Singkat cerita, Mr. Gajah ingin Alisya bertemu dengan adiknya, namun hari itu tidak pernah ada karena Mr. Gajah tidak menepati janjinya dengan Alisya.

Persahabatan Cia dan Alisya berjalan baik sampai akhirnya Cia mendapat masalah dan mengharuskan untuk pulang ke Indonesia dan meninggalkan New York. Lima tahun kemudian, Alisya yang perlahan tapi pasti sudah mulai menghidupi passion-nya diminta Cia untuk mengunjunginya di Indonesia. Di situlah Alisya bertemu Raka. Perasaan aneh muncul ketika mereka pertama kali bertemu, belum juga masalah bahwa ternyata Cia menyukai Raka. Dari sini lah kemudian misteri-misteri kehidupan Alisya terkuak satu persatu terpilin dan menghasilkan takdir dan sebelumnya Alisya tidak pernah kira. Dari sini juga teori kismet mulai terasa tidak lagi menggelikan.

Kismet bukanlah novel yang menghadirkan konsep cerita baru. Maksudnya, udah banyak deh novel yang pakai takdir sebagai pemersatu jalan cerita. Tapi entah kenapa, Kismet disuguhkan sangat menyenangkan untuk dibaca. Gimana ya? Walaupun di novel ini bikin tambah kerasa banget dunia itu sempit, dimana kalau kita ketemu banyak banget kebetulan di novel lain bakal bikin kita sebel, di Kismet kebetulan-kebetulan itulah yang menyatukan cerita dan gak bikin sebel sama sekali malah bikin gak bisa berhenti baca.

Dari awal, rasanya membaca Kismet ini kayak lagi ngobrol sama Alisya deh. Fun, tapi ada sedih-sedihannya juga. Ya, jadi kayak si Alisya nih curhat sama kita si pembaca tentang apa yang terjadi dalam hidupnya selama 10 tahun terakhir. Makanya agak aneh waktu di bagaian akhir POV ganti ke Ethan (adiknya Alisya) dan Raka, walau gak banyak jadi gak terlalu ganggu. Eh, yang tapi ganggu juga sih (lah), soalnya kayak temen kita lagi curhat terus tiba-tiba diinterupsi gitu.

Alur ceritanya pas dan tertata, gak lambat juga gak cepet. Saya suka gimana Mbak Nina menggambarkan Raka gak selalu sempurna, tapi dia ada jeleknya juga. Terus jalinan hubungan Cia dan Alisya kerasa banget dari yang belum terlalu kenal sampai kenal banget, walau ya di akhir porsi Cia agak kurang. Oh iya, dan saya juga suka gimana Mbak Nina menghadirikan murni Bahasa Inggris di percakapan yang memang berbahasa Inggris. Bahasa Inggris-nya gampang dipahami kok, jadi gak bikin bingung. Lalu penempatan ilustrasi yang gak di semua bab, justru bikin tambah suka, kayak bonus yang gak terkira-kira gitu.

Adegan-adegan yang saya suka di Kismet selain yang udah dijelaskan di sini buat ikut kuis #KismetGoodieBag (semoga menang!), juga ada di halaman 191, ketika Raka ngomong sama Alisya gini:

“Aku juga punya perasaan. You can’t expect me to love Cia, just because you don’t have the courage to be honest to your friend, not to mention yourself. Cia akan tahu, cepat atau lambat. She is not stupid.”
Nah! Kadang cewek-cewek sahabatan yang lagi suka sama cowok yang sama nih suka pada ribut sendiri terus ngelupain perasaan cowoknya. Kan ada saking sayangnya sama sahabatnya terus dia minta si cowok buat milih sahabatnya aja, padahal kan ya si cowok juga berhak milih. Ya, gimana ya. Hidup memang pelik.

Sayangnya, walaupun enjoy banget baca novel ini, ada kekurangannya juga. Yaitu latar New York yang kayaknya kurang ditampilkan secara detail. Terus juga pas Alisya belajar membatik untuk dipakainya di desain baju dia, kan cuma diceritain proses dia belajarnya, padahal saya juga pengin tahu lalu gimana dia mengaplikasikan pada desain bajunya. Yang kurang lagi, tokoh-tokoh di dalamnya belum ada yang bikin jatuh cinta. Agak susah ya suka sama Alisya dan Raka, gak tau kenapa. Tadinya suka sama Cia, cuma di pertengahan sampai akhir dia kayak jarang muncul lagi gitu. Dan maunya sih Hope dikasih bagian yang agak banyak juga ngomongnya, yang lucu-lucu gitu atau gimana misalnya. Ethan lumayan potensial sih, tapi ya belum jadi favorite. Nah, kalau sama Mr. Gajah, saya tadinya suka beneran, tapi ya kok… (gak dilanjut, takut spoiler).

Yang agak janggal menurut saya, di awal bab ditulis “Musim gugur, delapan tahun lalu.” Terus di halaman 121, ceritanya persahabatan Alisya dan Cia udah lima tahun dan dikabarkan Cia melahirkan saat ini. Nah, lalu setelah halaman itu latar waktu jadi beberapa minggu lalu, yang berarti kehitungnya sudah 8 tahun bersahabat. Tapi kok, ini ulang tahun anaknya Cia yang kelima? Berarti harusnya terhitung setelah melahirkan udah 10 tahun dong sahabatannya bukan 8 tahun? Ahahahaha, bingung sendiri. Mungkin karena saya melewatkan detail dan salah ngitung atau gimana, tapi hal ini gak akan ganggu cerita sih. Cuma ganggu saya yang bingung sendiri aja.

Intinya sih novel ini bagus, worth to read banget. Buat yang penasaran ya baca aja, gak perlu ragu. Apalagi kalau ada diskon 30% di toko buku, hahahaha. 3 bintang deh!

Life may bring you wrong turns, but destiny will take you there.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...