"With peaks of joy and valleys of heartache, life is a roller coaster ride, the rise and fall of which defines our journey. It is both scary and exciting at the same time." - Sebastian Cole

Tuesday, June 30, 2015

Comic Review: Hai, Miiko! Volume 1


Hai, Miiko! Volume 1
Komikus: Ono Eriko
Penerbit: PT Gramedia (M&C!)
Penerjemah: Widya Winarya
Editor: Marin Hermanto
Cetakan kesebelas, 2010.

Blurb:
Miiko ngambek karena tidak dibelikan sweater merah idamannya, ia pun kabur dari rumah. Dalam perjalanannya, ia mendapat suatu pengalaman menarik…
Yuhuuu! Pasti sebenernya udah banyak yang baca atau setidaknya tahu tentang si Miiko ini. Yap, sama kayak kebanyakan orang, saya pun jatuh hati sama Miiko. Mulai ngoleksi sekitar tahun 2009-ish, lupa deh. Pokoknya waktu itu majalah BOBO kasih bonus beberapa part cerita dari Hai, Miiko! Volume 19 dan dari situ saya langsung suka lalu mulai baca dan mengoleksi semua serinya. Nah, rencananya mulai sekarang (harusnya dari bulan Januari yang lalu), mau re-read dan review, hahaha. Wish me luck!

So, here we go. Mulai dari volume 1.

Ada 8 cerita di volume ini. Nah, tentunya karena ini volume 1 jadi Ibu Ono Eriko gak mau bikin kita bingung. Sebelum mulai cerita, kita akan disuguhkan dengan perkenalan terlebih dahulu. Jadi, sebelum dibukukan, Miiko pernah jadi karakter cerita di majalah Pyong-Pyong. Karena animo masyarakat Jepang yang heboh, akhirnya cerita-cerita lepas ini dibukukan deh, lalu terbit dengan judul “Namaku Miiko!” (yang hanya ada 4 volume). Setelah itu, Pyong-Pyong bubar dan digantikn majalah Ciao. Dari majalah Ciao itu lah, komik “Hai, Miiko!” mulai muncul volume 1-nya di tahun 1995.

Sekarang, lanjut review ke kumpulan ceritanya.

Cinta Pertama
Berkisah tentang Mari-Chan (sahabat Miiko) yang ketar-ketir lagi naksir dengan teman sekelas mereka, Aoyama. Kebetulan besok liburan kelas, Mari minta bantuan Miiko untuk ngedeketin dia dengan Aoyama  supaya Mari bisa mengatakan perasaannya. Tapi ya namanya juga Miiko ya, hehehe. Walaupun Mari berhasil, tapi dia tetep sedih nih.
Lucu deh, ya soalnya ini Miiko gitu (??) udah pasti lucu. Cara Mari-Chan nyatain cintanya juga lucu.

Tappei Pergi?!
Ada clue-clue kayaknya Tappei mau ikut pindah sama orangtuanya. Lalu Miiko dan teman-teman pada sedih deh. Bahkan Miiko sampai nangis di depan Tappei.

Orang Aneh di Sebelah
Nomura Yoshiki, murid pindahan baru. Anaknya pendiam dan keliatannya agak judes. Karena ada rotasi tempat duduk di setiap catur wulan baru (iya! Kan tahun 1995, jadi namanya masih catur wulan), ternyata Miiko kebagian duduk di sebelah Yoshiki. Waktu pelajaran bahasa, Miiko lupa bawa buku. Waktu dia bilang ke Yoshiki minta lihat berdua, Yoshiki nolak judes gitu. Miiko jadi jiper. Eh, penghapus Miiko malah jatuh ke deket Yoshiki. Miiko takut untuk minta tolong ke Yoshiki, alhasil dia berusah sendiri ambil sampai kakinya keseleo.

Papa Pergi Dinas Luar
Memang susah punya orangtua yang semuanya bekerja. Apalagi waktu papa pergi dinas ke luar. Miiko dan Mamoru harus bantu Mama ngurusin kerjaan rumah. Tapi ya, kalau rajin sih namanya bukan Miiko kan.

Air Mata Mari-Chan
Cerita ini ada 2 bagian yang saling bersambung. Gitu deh memang kalau di Miiko, kalau ceritanya terlalu panjang, bakal dibikin 2 bagian yang letaknya juga bersambungan. Kurang ngerti juga kenapa harus dibagi 2, karena toh dilanjutin juga gak akan apa-apa. Atau karena biar kesannya gak terlalu panjang dan jumlah cerita tiap volume-nya konstan? Mungkin.
Nah, dicerita ini kita akan ketemu teman-temannya Miiko dan Mari-Chan yang lain. Mereka sebel sama Mari-Chan karena sikapnya yang terlalu bossy. Miiko jadi bingung, harus pilih sama Mari-Chan atau teman-temannya yang lain.

Jaket Merah Muda
Namanya komik anak-anak, pasti bebas fantasinya mau kemana aja. Di cerita ini, Miiko ceritanya ngambek sama mamanya karena gak dibeliin jaket yang dia mau. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah dan bluuuuuur! Tiba-tiba suasana kotanya jadi 23 tahun yang lalu, waktu umur mamanya baru 12 tahun.

Miya dan Gadis Salju
Ini cerita lepas dan gak masuk ke kehidupan Miiko sebenarnya. Jadi ini kayak cerita jaman dulu yang penuh leganda. Ada gadis salju yang mencari teman. Kalau ada anak yang ia sukai, dia langsung menculik dan membekukan hati anak itu seperti es. Nah, kali ini bagiannya Tappei (yang dicerita ini dinamai Peta). Miiko (atau Miya dicerita ini) tentunya gak mau temanny diculik, jadi dia akan menolong Peta dari si Gadis Salju.

Berjuanglah Tako
Cerita yang gak ada Miiko-nya sama sekali. Mungkin maksudnya untuk bonus. Ceritanya ada gadis bernama Tako, dia tinggi tapi suka gak pede. Alhasil, tim basketnya jarang sekali menang.  Nah, temannya si Chizumi ini pengen dong sekali-kali timnya menang, jadi dia cari akal gimana cara membangkitkan kepercayaan diri Tako.

Yap, gitu deh cerita Miiko. Lucu, menghibur, bahkan gak akan bosen mau di-reread sampai berapa kali pun. Di volume ini, buat yang udah baca volume awal sampai volume 5 ke atas, pasti juga tahu deh. Perawakan rambut Miiko agak beda sama yang Miiko volume atas. Mulutnya sih tetap lebar ya, ahahahahaha.

Selalu suka caranya Bu Ono Eriko gambar. Tokohnya dibuat komikal banget, bikin ngakak. Kalau lagi bayangin berjuang atau semangat gitu malah dibuat cantik kan, jadi suka.
3 of 5 stars.

Thursday, June 25, 2015

Singapore Begins


Judul: Singapore Begins
Penulis: Agata Barbara
Penerbit: Ice Cube Publisher
Cetakan pertama, April 2015.


Blurb:
“Tepparapol Goptanisagorn.” 
“Hah?” ujar Kanna spontan tanpa dia sadari. 
“Namaku. Tepparapol Goptanisagorn,” sang cowok mengulangi, kali ini dengan sedikit lebih lambat. 
Kanna mengerjap. Tep… teppa… Gopta… “Apa?” 
Kanna tahu dia bukan anak kesayangan Mama-Papa, tapi dibuang ke Singapura tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Namun apa boleh buat, hasil tes kepribadiannya yang minus membuat keputusan orangtuanya tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah Kanna akan tinggal sekarang, di sebuah rumah kos bersama empat orang lainnya dari empat negara berbeda pula. Baru saja menginjakkan kaki di sana, Kanna sudah disambut oleh ibu kos superheboh. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis bule yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengannya. Oh, dan suara tangisan siapa itu dari lantai dua? Cuma setahun, sih, tapi bagaimana cara Kanna bertahan kalau menyebutkan nama salah satu housemate-nya saja sudah begitu sulit?

Ini pertama kalinya saya baca YARN dan kayaknya saya membuat pilihan yang tepat dengan memilih Singapore Begins sebagai pengenalan untuk seri YARN ini. Yey!


Berisikan cerita tentang moral dan persahabatan yang kental, Singapore Begins membuat kita berkenalan dengan 5 orang sahabat beda negara yang disatukan dalam satu rumah kost di Singapura. Dengan kepribadian masing-masing, 2 cewek 3 cowok yang tinggal bersama ini berhasil belajar sesuatu dari ‘pengasingan’ mereka di Singapura.

Meet the gang:

1. Kanna Hartono, cewek tomboy asal Indonesia. Sering dikira orang Jepang karena namanya. Dikirim ke Singapura oleh orang tuanya untuk belajar dan mencari teman, karena tes psikologinya mengatakan kalau kemampuan mengekspresikan dirinya kurang. Kanna terlalu tertutup, dingin, dan mandiri. Namun Kanna merasa alasan itu hanya untuk memperkuat tindakan orangtuanya untuk membuangnya jauh dari rumah.
2. Sally Christina Wilfred, bule Amerika. Cantik, tinggi, putih, bermata hijau, dan berisik. Tipikal cherish-girl yang menyenangkan. Kadang-kadang (bahkan lebih sering) terlalu drama, namun selalu ceria kayak hidupnya gak banyak masalah.
3. Kim Joon Hee, cowok tampan Korea dengan mata hitam bulat, hidung mancung, dan rambut hitam kecoklatan. Joon Hee memiliki orangtua yang posesif, namun pasti ada alasan tersendiri kenapa dia memutuskan pindah ke Singapura. 
4. Paresh Abharana, cowok iseng dan kelebihan energi yang berasal dari India. Mungkin kalau di sekolah-sekolah gitu dia tipikal badut kelas dengan segala ide jailnya.
5. Tepparapol Goptanisagorn, atau disingkat G. Cowok tinggi dari Thailand dengan segala ke-terlalu-berlebihan-dan-heboh-nya.

Dan Jun, beserta tokoh-tokoh lain yang turut menyemarakan cerita.

Isi novelnya fun dan kekinian deh, hahaha. Bakal nemu nama film, buku, bahkan drama korea yang lagi digandrungi banget untuk jaman sekarang. Dan kayaknya udah lama deh gak baca cerita persahabatan kayak gini. Meski awal-awalnya mikir mungkin kalau tokoh-tokohnya dijadiin anak SMA bakal lebih asik. Tapi terus, gak jadi deh, jadi anak kuliahan juga udah asik. Well, awalnya juga agak bingung ini ceritanya mau tentang apa ya garis besarnya, apakah pengasingan dari orang tua, apa pembuktian pembelajaran masa lalu atau gimana, eh ternyata kayaknya ini bergaris besar tentang cyber-bullying yang baru ada di pertengahan cerita. Tapi tentunya juga dibalut dengan kisah-kisah masa lalu para tokoh yang menjadikan mereka akhirnya tinggal dalam satu rumah di Singapura. Dan buat yang suka romance, jangan khawatir, novel ini walaupun YARN, tetep ada kisah cintanya kok walau sedikit (tapi porsinya sangat cukup) (cukup bikin penasaran).

Tentang cerita dengan tokoh yang berbeda kewarganegaraan, suka sih penulis menghadirkan 5 tokoh (bahkan 6 atau 7 malah) dari negara berbeda dan kita juga sempet dikasih adegan culture-shock. Terus suka juga kerena penulis sempet-sempet menyelip kebiasaan dari negara-negara itu, jadi bisa nambah pengetahuan. Nah, masalah tokoh, menurut saya si Kanna ini terlalu pinter dan tahu segalanya (lha) (bilang aja iri) hahaha. Jadi kurang suka Kanna, tapi I love Sally dan Jun! Sayang Jun kurang banyak porsinya. Juga, cerita di novel terlalu berpusat sama hubungan Kanna – Sally dan Kanna – Joon Hee. Maksudnya, novel ini bakal lebih seru kalau adegan Kanna – G atau Kanna – Paresh juga sebanyak Sally dan Joon Hee. Jadi kayak pembaca mengenal G dan Paresh cuma dari narasi Kanna aja, gak terlalu banyak percakapan antara mereka. Bahkan pas mengetahui masa lalu aja, bagian Sally dan Joon Hee ada percakapannya, sedangkan G dan Paresh Cuma dinarasikan aja. Tapi gak apa-apa, tetep suka cerita persahabatan kayak gini.

Suka juga sama ending-nya. Suka sama selipan-selipan moral yang tetep menyenangkan saat dibaca. Suka sama gaya menulisnya dan kayaknya ini kebanyakan dari pengalaman penulisnya ya? Suka deh pokoknya. OH, iya! Dan suka juga sama cover-nya.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal (halah), ngompres orang demam itu pakai air es atau air hangat sih? Di novel ini pakai air es, sempet googling katanya pakai air hangat, tapi terus nanya ke seseorang jawabannya pakai air es juga. Wah, harus nanya dr. Oz nih!

I’m looking forward to read another YARN-novels!

3,5 of 5 stars.
“Dan orang yang sulit untuk memercayai siapa pun.. akan memercayai sahabat-sahabatnya seumur hidup.” - Kanna 

Monday, June 22, 2015

Comic Review: Hirameki Hatsume-Chan 3


Judul: Hirameki Hatsume-Chan 3
Penulis (komikus): Daioki
ISBN: 978-602-7975-81-1
Penerbit: Bentang Komik (PT Bentang Pustaka)
Penerjemah: Adinda Hafizh
Tebal: 132 halaman
Cetakan pertama, Maret 2014.


Blurb:
Kemampuan kotak buatan Hatsume semakin canggih, lho! Layaknya robot, kotak ajaib Hatsume bisa melakukan berbagai macam pekerjaan manusia. Pekerjaan apa saja ya, itu? Yuk, ikuti lagi kelanjutan cerita Hatsume dan kotak ajaibnya yang lucu dan menggemaskan ini!

Seperti yang ada di blurb, Hirameki Hatsume-Chan berisi kumpulan cerita keseharian Hatsume yang banyak terbantu oleh kemampuan kotak buatannya. Layaknya robot hebat, kotak Hatsume bisa melakukan berbagai macam pekerjaan manusia. Di komik yang ketiga ini cerita berlanjut dari episode 29 sampai episode 42.

Gak banyak sih yang bisa saya jabarkan di sini. Mungkin karena saya gak ngikutin dari komik yang pertama, saya jadi gak ngerti asal-usul kotak di kepala Hatsume ini. Jadi banyak pertanyaan di kepala saya pas baca komik ini. Kayak, Hatsume ini sebenarnya anak manusia beneran apa bukan? Soalnya ekspresinya datar-datar aja gitu keliatannya. Masalah gambar keseluruhan sih gak ada masalah.

Inti ceritanya sih ya mirip lah kayak kebanyakan komik dengan premis alat ajaib. Di sini si kotak bisa disulap jadi apa aja dan sangat membantu. Udah gitu aja.

Lucu gak? Em, lumayan. Tapi buat ukuran komik (yang kayaknya sih maunya humor), lucunya kurang. Gak tau ya, sebagian ada yang garing gitu. Mungkin karena terjemahan dan di Indonesia gak bisa nyambung dengan lelucon itu. Kayak mungkin itu lelucon lokal Jepang, jadi yang ngerti ya orang-orang sana, pas diterjemahin gak dapet lucunya (??) Atau pas baca lagi gak dapet mood-nya aja kali ya. Ini contohnya:

Jadi si Hatsume dan Ayahnya nih mau BBQ-an di halaman ngajak Tak-Kun dan Kei-Chan (temennya Hatsume). Lalu Hatsume bilang, “Kita harus siap-siap. Seperti bola.” Nah dibales deh sama Ayah, “Oh, mau main bola habis makan BBQ, ya?” lalu apa coba jawaban si Hatsume? Jawabannya kayak gini, “Bukan begitu. BBQ itu sama dengan kasti atau pingpong, kan?” NAHHHH! Saya gak ngerti deh itu maksudnya apa. Dari percakapannya sih harusnya lucu kan, tapi ya saya jadinya gak ketawa gara-gara gak ngerti.

Wah, gak bisa panjang-panjang nih review-nya. Bingung mau bahas apa lagi. Intinya saya kurang bisa menikmati dan gak berniat mengoleksi komik yang kesatu dan duanya. Cukup sampai di sini aja ya, Hatsume. Babay.

Terakhir, ini bonus percakapan Hatsume dan teman-temannya:
Tak-Kun: Hari ini kita karya wisata ya?
Hatsume: Iya.
Hatsume: Jadinya ngapain, ya?
Kei-Chan: Ya karya wisata dong.
Tak-Kun: Maksudnya?
Hatsume & Kei-Chan: Nanti itu berkarya atau berwisata.. ?
Tak-Kun: NGGAK DIPISAH KALI!!!

2 of 5 stars.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...